Imam Mukhlis

Economic & Development Study,Economic Faculty, Malang State University

Pengantar Ekonomi Makro

Mata Kuliah : Pengantar Ekonomi Makro
SKS : 3
Dosen : Dr. Imam Mukhlis, SE, MSi

  Deskripsi :

Pokok bahasan dalam mata kuliah ini berkenaan dengan perekonomian dalam perspektif makro.  Dalam hal ini perekonomian makro merupakan disiplin Ilmu yang  berkembang dalam ranah Teori Ekonomi yang menjelaskan perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam perspektif ekonomi makro, perilaku manusia tersebut tercermin dalam action perekonomian secara agregat yang dilakukan oleh masyarakat (swasta) dan negara. Indikator-indikator perekonomian secara agregat tersebut meliputi ; pendapatan nasional, pertumbuhan ekonomi, kesempatan kerja, inflasi, stabilitas perekonomian dan kebijakan perekonomian secara makro oleh pemerintah.

Kompetensi inti :

Kompetensi yang diharapkan setelah mempelajari mata kuliah ini adalah :

  • Mampu memahami dimensi teori ekonomi dalam perspektif ekonomi makro
  • Mampu mengidentifikasi berbagai indikator utama dalam perekonomian secara makro
  • Memahami siklus aliran barang dan jasa dalam perekonomian secara makro
  • Memahami peran pelaku ekonomi dalam menciptakan stabilitas perekonomian
  • Mampu memahami peran kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian

 Kompetensi tambahan :

  • Mampu menjelaskan fenomena aktual dalam pembangunan ekonomi
  • Mampu memberikan analisis kritis terhadap kebijakan pemerintah dalam pembangunan ekonomi
  • Mampu melakukan penghitungan secara kuantitatif besaran-besaran yang ada dalam perekonomian secara makro

Materi :

  • Dimensi dalam Teori Ekonomi
  • Siklus bisnis
  • Stabilitas perekonomian
  • Kesempatan kerja dan pengangguran
  • Pendapatan nasional dan pertumbuhan ekonomi
  • Inflasi
  • Kebijakan pemerintah dalam perekonomian

 Buku Kepustakaan :

  1. Case, Karl, Ray Fair, 2002, Principle of Economics, Prentice Hall Business Publising, New York
  2. Colande, David, 2004,Macroeconomics,Fifth edition, Mc Graw Hill, Irwin
  3. Dornbusch, Rudigner dan Stanley Fischer, 1995.Macroeconomics, International Edition, Mc Graw Hill Company, New York
  4. Kristea, F dan Imam Mukhlis, 2011.Teori Ekonomi, Universitas Kanjuruhan Press, Malang
  5. NCEE, 2010.Modul Pembelajaran Ekonomi, USA
  6. http://www.bi.go.id
  7. http://www.adb.or.id

 Metode Pebelajaran :

  • Simulasi, Ceramah, Diskusi, Observasi lapang
  • Pembelajaran berbasis aktivitas : think pair share, jigsaw
  • Pembelajaran berbasis Tehnologi Informasi dan Komunikasi

  Penilaian

  • Kehadiran : 10%
  • Partisipasi Kelas : 10%
  • Tugas Individu : 10%
  • Ujian Tengah Semester : 30%
  • Ujian Akhir Semester : 40%

SILABUS

Pertemuan

                            Materi              

Kegiatan Mahasiswa

Sumber Referensi

I Pendahuluan : SAP-SILABUS, current issues Ceramah, Diskusi, tanya jawab SAP-SILABUS
II Dimensi Teori Ekonomi : Ekonomi Makro-Ekonomi Mikro Ceramah, diskusi tanya jawab 1, Bab 1
III Siklus bisnis dan kondisi perekonomian Ceramah, diskusi tanya jawab 3, Bab 1
IV Ciri-ciri perekonomian dalam siklus bisnis, contoh negara pada kondisi siklus bisnis  Think Pair Share http://www.adb.or.id, http://www.bi.go.id
V Stabilitas perekonomian Ceramah, diskusi, jigsaw 1, Bab 22, Bab 2
VI Dampak stabilitas terhadap perekonomian negara Ceramah, diskusi, Think Pair Share 4, Bab 83, Bab 4
VII Simulasi (sosiodrama) kondisi perekonomian secara makro Simulasi (sosiodrama) 5, Bab 5, Observasi lapangan,
VIIII Analisis kritis kondisi perekonomian nasional TIK 4 Bab 9, http://www.bi.go.id
X UTS Subjective test Soal UTS
XI Kesempatan kerja dan pengangguran : pengertian, jenis, kurva phillips Ceramah, diskusi, pemecahan masalah 3, Bab 4
XII Pendapatan nasional : pengertian, metode perhitungan, pendekatan grafis Ceramah, diskusi tanya jawab 3, Bab 4
XIII Pertumbuhan ekonomi : pengertian, cara menghitung, implikasi Ceramah, diskusi tanya jawab 2, Bab 5
XIV Inflasi : pengertian, ciri, dampak Diskusi, Jigsaw 2, Bab 34, Bab 8
XV Kebijakan pemerintah dalam perekonomian Ceramah, diskusi tanya jawab, Observasi 4, Bab 93, Bab 5
XVI Evaluasi Materi Diskusi Materi
About these ads

Single Post Navigation

31 thoughts on “Pengantar Ekonomi Makro

  1. untuk kelas pengantar ekonomi makro pertemuan ke 4..kerjakan secara berkelompok dua orang.
    1. Berikan ulasan mengenai ciri-ciri perekonomian pada kondisi resesi, depresi, recovery dan booming
    2. Untuk Indonesia, periode 1997/1998 terjadi krisis ekonomi. jelaskan kondisi siklus bisnis yang terjadi pada periode waktu tersebut.
    3.Indikator ekonomi apa yang sangat relevan dalam menilai perkembangan ekonomi suatu negara, jelaskan.
    selamat mengerjakan dan sukses (mam)

  2. Saya LARAS dari OFF BL
    pak tugasnya ini terakhir dijawab pada hari apa?

  3. senin ampe jumat (mam)

  4. puji irawati on said:

    pak saya IRA dari offing BL
    berarti sekarang udah gk bisa kirim tugas lagi ya pak

  5. puji irawati on said:

    Pak ini tugas saya dan melinda dari offering BL
    Tugas pengantar ekonomi makro pada pertemuan ke 4
    1. Ciri-ciri perekonomian pada kondisi resisi,depresi,recovery dan booming.

    1. Resesi adalah penurunan aktifitas ekonomi ketingkat yang lebih rendah dari sebelumnya yaitu ditandai dengan laju pertumbuhan ekonomi (GDP) mengalami penurunan selama dua kwarta berturut-turutl.
    Ciri-ciri perekonomian pada kondisi resesi :
    1. Turunnya daya beli
    Akibat inflasi yang tinggi, harga naik, daya beli turun, masyarakat mengurangi belanja, dan memilih untuk lebih banyak menabung.
    2. Turunnya investasi
    Akibat turunnya konsumsi, produksi berlebihan, investasi tidak diperlukan.
    3. Turunnya kesempatan kerja
    Akibat investasi turun, lowongan kesempatan kerja tidak ada ,pengangguran menjadi meningkat
    2. Depresi adalah keadaan perekonomian suatu negara yang berada pada kondisi resesi yang menyebabkan GDP terus turun dan berada pada kondisi terbawah dan berlangsung dalam jangka waktu yang lama sehingga menjadi depresi .
    Ciri-cirinya perekonomian pada kondisi depresi:
    1. Tingginya pengangguran
    Indonesia pernah mencapai tingkat pengangguran 40% dari angkatan kerja.
    2. Kapasitas produksi yang menganggur
    cenderung tidak beroperasi daripada mengalami kerugian besar..
    3. Resiko tinggi
    rasa pesimis yang mendalam

    3. Recovery atau perbaikan yaitu kondisi ekonomi dimana setelah berada pada kondisi depresi perekonomian akan mulai mengalami kebangkitan yang dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan kebijkan moneter.
    Ciri-cirinya perekonomian pada kondisi recovery :
    1. Membaiknya indikator ekonomi
    Suku bunga turun, inflasi berhasil dikendalikan, gejolak buruh turun, nilai mata uang mulai stabil
    2. Meningkatnya investasi
    Adanya stimulus rangsangan ekonomi (melalui pengeluaran pemerintah), bagusnya indikator makro, pelaku usaha mulai optimis akan hari kedepannya dan perusahaan mulai mengkaji investasi baru.

    4. Booming yaitu kondisi perekonomian suatu negara setelah mengalami puncaknya dan akhirnya menyebabkan ledakan ekonomi bila permintaan sangat tinggi shg GDP yang dihasilkan melebihi GDP potensialnya

    2. kondisi siklus bisnis indonesia di tahun 1997/1998
    2 Krisis yang melanda Indonesia pada tahun 1997/1998, sebenarnya merupakan imbas dari apa yang terjadi di Thailand. Pada 14 dan 15 Mei 1997, mata uang Thailand, Baht, terpukul oleh serangan spekulasi besar. Nilai mata uang baht diambangkan terhadap dolar. Akibatnya, baht, yang sejak 1985 dipatok pada 25 baht terhadap satu dolar AS, jatuh tajam dan hilang setengah harganya. Nilai tukar baht menjadi 56 baht per satu dolar AS, pada Januari 1998. Pasar saham Thailand jatuh 75% pada 1997. Pada 1997, sebenarnya kondisi ekonomi di Indonesia tampak jauh dari krisis. Tidak seperti Thailand, tingkat inflasi Indonesia lebih rendah. Neraca perdagangan surplus lebih dari 900 juta dolar, persediaan mata uang luar lebih dari 20 milyar dolar, sektor perbankan berjalan baik. Nilai tukar rupiah terhadap dolar, menguat. Dalam kondisi ekonomi seperti itulah, banyak perusahaan di Indonesia meminjam uang dalam bentuk dolar AS.
    Krisis moneter yang terjadi di Thailand , menyebabkan Indonesia dan beberapa negara Asia, mengalami krisis keuangan. Ketika krisis melanda Thailand, nilai baht terhadap dolar anjlok dan menyebabkan nilai dolar menguat. Penguatan nilai tukar dolar berimbas ke rupiah. Sekitar bulan Juli 1997, di Indonesia terjadi depresiasi nilai tukar rupiah, nilai rupiah terus merosot. Di bulan Agustus 1997 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah dari Rp2.500,00 menjadi Rp2.650,00 per dolar AS. Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Padahal, pada saat itu hutang luar negeri Indonesia, baik swasta maupun pemerintah, sudah sangat besar. Tatanan perbankan nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis.Kepanikan semakin menjadi-jadi ketika perusahaan yang tadinya banyak meminjam dolar (ketika nilai tukar rupiah kuat terhadap dolar), kini sibuk memburu atau membeli dolar untuk membayar bunga pinjaman mereka yang telah jatuh tempo, dan harus dibayar dengan dolar. Nilai rupiah pun semakin jatuh lebih dalam lagi. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi tidak mampu memperbaiki keadaan. Malahan akhirnya paket bantuan IMF itu, yang dalam penggunaannya banyak terjadi penyelewengan, semakin menambah beban utang yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia.

    Menanggapi perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mulai merosot sejak bulan Mei 1997, pada bulan Juli 1997 BI melakukan empat kali intervensi dengan memperlebar rentang intervensi. Namun pengaruhnya tidak banyak. Nilai rupiah dalam dolar AS terus terteka, BI akhirnya menghapuskan rentang intervensi.
    Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak awal Juli 1997, di akhir tahun itu telah berubah menjadi krisis ekonomi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menyebabkan harga-harga naik drastis. Banyak perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Jumlah pengangguran meningkat dan bahan-bahan sembako semakin langka.Krisis ini tetap terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia. Yang dimaksud fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, cadangan devisa masih cukup besar dan realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus.
    Inflasi dalam negeri Indonesia meningkat tajam. Harga sembako, maupun barang-barang lain melonjak berlipat kali. Krisis yang melanda Indonesia ini memuncak ketika pada Mei 1998, Presiden Suharto dipaksa mundur, setelah sebelumnya terjadi berbagai kerusuhan.ara”, terhadap prospek

    3. Indicator ekonomi yang relevan dalam menilai perkembangan ekonomi suatu Negara yaitu antara lain :
    1. Inflasi
    Inflasi merupakan peristiwa kenaikan harga yang terjadi pada perekonomian yang bersifat umum dan terus menerus untuk seekelompok barang tertentu.inflasi mencerminkan adanya dinamika yang terjadi dalam perekonomian Negara baik dipengaruhi dari sisi penawaran maupun dari sisi permintaan.Setiap Negara paeti mengalami inflasi dalam perekonomiannya,tingkatan inflasi juga berbeda-beda pada setiap tahunntya ,karena inflasi dialami oleh setiap Negara maka inflasi cocok dijadikan untuk mnilai perkembsngsn ekonomi suatu negara.
    2. Produk domestic bruto (PDB)
    PDB adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu Negara pada peride tertentu.PDB diartikan sebgai nilai keseluruhan barang dan jasa yang diproduksi didalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu.
    3. Tingkat pengangguran
    Pengangguran dalam suatu Negara adalah perbedaan diantara angkatan kerja dengan penggunaan tenaga kerja yang seberarnya,sedangkan yang dimaksud angkatan kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada waktu tertentu.Setiap Negara pasti terdapat pengangguran dan tingkat pengangguran ini dapat dijadikan indicator yang relevan untuk menilai perkembangan perekonomian suatu Negara.

  6. Vera Febriani Dewi_120431426394_OFF.BL on said:

    NAMA KELOMPOK:
    -VERA FEBRIANI DEWI_120431426394_OFF.BL
    -OKFI ALMITA WESTRI_120431426503_OFF.BL

    1. Ciri-ciri perekonomian pada kondisi resesi, depresiasi, recovery dan booming
    a. Resesi adalah bagian normal dari sebuah siklus bisnis dan ekonomi, namun media biasanya akan bersikap seolah-olah
    langit akan runtuh jika terindikasi adanya resesi.
    Ciri perekonomian pada kondisi resesi :
    1. Menurunnya lapangan kerja
    2. Menurunnya investasi
    3. Menurunnya keuntungan perusahaan
    b. Depresi disebut pecah atau meletus ketika terjadi serentetan kesalahan, atau sekelompok kekeliruan penilaian yang dilakukan oleh gugusan bisnis (bukan semata satu jenis bisnis tertentu saja), yang berujung pada kerugian besar yang terjadi secara relatif bersamaan.
    Ciri perekonomian pada kondisi depresi :
    1. terjadinya kerugian besar yang dialami oleh gugusan berbagai macam bisnis.
    2. fakta bahwa industri yang bergerak di bidang barang-modal (capital goods; mis. bahan mentah, konstruksi, dan peralatan industri) mengalami fluktuasi yang lebih luas ketimbang industri barang-konsumen. Industri barang-modal mengalami ekspansi lebih hebat di saat boom, tapi juga menderita paling dahsyat dalam periode depresi.
    3. kenaikan S uang beredar di dalam perekonomian. Sebaliknya, S uang secara umum mengalami penurunan (meski tidak secara universal) S uang selama masa depresi.
    c. Recovery atau perbaikan yaitu kondisi ekonomi dimana setelah berada pada kondisi depresi perekonomian akan mulai mengalami kebangkitan yang dipengaruhi oleh kebijakan fiskal dan kebijkan moneter.

    Ciri-ciri
    1) Membaiknya indikator ekonomi à suku bunga turun, inflasi berhasil dikendalikan, gejolak buruh turun, nilai mata uang mulai stabil
    2) Meningkatnya investasi à adanya stimulus rangsangan ekonomi (melalui pengeluaran pemerintah), bagusnya indikator makro, pelaku usaha mulai optimis akan hari depannya à perusahaan mulai mengkaji investasi baru
    d. Booming adalah Sebuah ledakan ekonomi yang terjadi ketika GDP riil tumbuh lebih cepat daripada tingkat tren pertumbuhan ekonomi (di Uk, tingkat tren adalah sekitar 2,5% per tahun).
    Dalam booming permintaan agregat yang tinggi. Biasanya, perusahaan menanggapi ini dengan meningkatkan produksi dan kesempatan kerja dan mereka juga dapat memilih untuk memperluas margin keuntungan dengan menaikkan harga. Peningkatan output akhirnya menempatkan tekanan pada sumber daya yang langka dan faktor dapat menyebabkan permintaan-tarik inflasi. This depends on how much spare capacity is available to meet demand. Hal ini tergantung pada seberapa banyak kapasitas cadangan yang tersedia untuk memenuhi permintaan.
    Ciri-ciri perekonomian pada kondisi booming:
    1. Tingkat permintaan agregat kuat dan naik
    2. Peningkatan permintaan untuk barang-barang impor & jasa
    3. Pendapatan pajak pemerintah akan meningkat dengan cepat
    4. Meningkatnya investasi dan keuntungan perusahaan, dan
    5. Meningkatnya produtivitas

    2. Kondisi siklus bisnis Indonesia pada periode 1997/1998
    TAHUN 1998 menjadi saksi bagi tragedi perekonomian bangsa. Keadaannya berlangsung sangat tragis dan tercatat sebagai periode paling suram dalam sejarah perekonomian Indonesia. Mungkin dia akan selalu diingat, sebagaimana kita selalu mengingat black Tuesday yang menandai awal resesi ekonomi dunia tanggal 29 Oktober 1929 yang juga disebut sebagai malaise.
    Hanya dalam waktu setahun, perubahan dramatis terjadi. Prestasi ekonomi yang dicapai dalam dua dekade, tenggelam begitu saja. Dia juga sekaligus membalikkan semua bayangan indah dan cerah di depan mata menyongsong milenium ketiga.
    Selama periode sembilan bulan pertama 1998, tak pelak lagi merupakan periode paling hiruk pikuk dalam perekonomian. Krisis yang sudah berjalan enam bulan selama tahun 1997,berkembang semakin buruk dalam tempo cepat. Dampak krisis pun mulai dirasakan secara nyata oleh masyarakat, dunia usaha.
    Dana Moneter Internasional (IMF) mulai turun tangan sejak Oktober 1997, namun terbukti tidak bisa segera memperbaiki stabilitas ekonomi dan rupiah. Bahkan situasi seperti lepas kendali, bagai layang-layang yang putus talinya. Krisis ekonomi Indonesia bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara.
    Seperti efek bola salju, krisis yang semula hanya berawal dari krisis nilai tukar baht di Thailand 2 Juli 1997, dalam tahun 1998 dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi, berlanjut lagi krisis sosial kemudian ke krisis politik.
    Akhirnya, dia juga berkembang menjadi krisis total yang melumpuhkan nyaris seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa. Katakan, sektor apa di negara ini yang tidak goyah. Bahkan kursi atau tahta mantan Presiden Soeharto pun goyah, dan akhirnya dia tinggalkan.
    Faktor yang mempercepat efek bola salju ini adalah menguapnya dengan cepat kepercayaan masyarakat, memburuknya kondisi kesehatan Presiden Soeharto memasuki tahun 1998, ketidakpastian suksesi kepemimpinan, sikap plin-plan pemerintah dalam pengambilan kebijakan, besarnya utang luar negeri yang segera jatuh tempo, situasi perdagangan internasional yang kurang menguntungkan, dan bencana alam La Nina yang membawa kekeringan terburuk dalam 50 tahun terakhir.
    Dari total utang luar negeri per Maret 1998 yang mencapai 138 milyar dollar AS, sekitar 72,5 milyar dollar AS adalah utang swasta yang dua pertiganya jangka pendek, di mana sekitar 20 milyar dollar AS akan jatuh tempo dalam tahun 1998. Sementara pada saat itu cadangan devisa tinggal sekitar 14,44 milyar dollar AS.
    Terpuruknya kepercayaan ke titik nol membuat rupiah yang ditutup pada level Rp 4.850/dollar AS pada tahun 1997, meluncur dengan cepat ke level sekitar Rp 17.000/dollar AS pada 22 Januari 1998, atau terdepresiasi lebih dari 80 persen sejak mata uang tersebut diambangkan 14 Agustus 1997.
    Rupiah yang melayang, selain akibat meningkatnya permintaan dollar untuk membayar utang, juga sebagai reaksi terhadap angka-angka RAPBN 1998/ 1999 yang diumumkan 6 Januari 1998 dan dinilai tak realistis.
    Krisis yang membuka borok-borok kerapuhan fundamental ekonomi ini dengan cepat merambah ke semua sektor. Anjloknya rupiah secara dramatis, menyebabkan pasar uang dan pasar modal juga rontok, bank-bank nasional dalam kesulitan besar dan peringkat internasional bank-bank besar bahkan juga surat utang pemerintah terus merosot ke level di bawah junk atau menjadi sampah.
    Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga insolvent atau nota bene bangkrut.
    Sektor yang paling terpukul terutama adalah sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan, sehingga melahirkan gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK). Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.
    Akibat PHK dan naiknya harga-harga dengan cepat ini, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat mencapai sekitar 50 persen dari total penduduk. Sementara si kaya sibuk menyerbu toko-toko sembako dalam suasana kepanikan luar biasa, khawatir harga akan terus melonjak.
    Pendapatan per kapita yang mencapai 1.155 dollar/kapita tahun 1996 dan 1.088 dollar/kapita tahun 1997, menciut menjadi 610 dollar/kapita tahun 1998, dan dua dari tiga penduduk Indonesia disebut Organisasi Buruh Internasional (ILO) dalam kondisi sangat miskin pada tahun 1999 jika ekonomi tak segera membaik.
    Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan, perekonomian yang masih mencatat pertumbuhan positif 3,4 persen pada kuartal ketiga 1997 dan nol persen kuartal terakhir 1997, terus menciut tajam menjadi kontraksi sebesar 7,9 persen pada kuartal I 1998, 16,5 persen kuartal II 1998, dan 17,9 persen kuartal III 1998. Demikian pula laju inflasi hingga Agustus 1998 sudah 54,54 persen, dengan angka inflasi Februari mencapai 12,67 persen.
    Di pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Jakarta (BEJ) anjlok ke titik terendah, 292,12 poin, pada 15 September 1998, dari 467,339 pada awal krisis 1 Juli 1997. Sementara kapitalisasi pasar menciut drastis dari Rp 226 trilyun menjadi Rp 196 trilyun pada awal Juli 1998.
    Di pasar uang, dinaikkannya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) menjadi 70,8 persen dan Surat Berharga Pasar Uang (SBPU) menjadi 60 persen pada Juli 1998 (dari masing-masing 10,87 persen dan 14,75 persen pada awal krisis), menyebabkan kesulitan bank semakin memuncak. Perbankan mengalami negative spread dan tak mampu menjalankan fungsinya sebagai pemasok dana ke sektor riil.
    Di sisi lain, sektor ekspor yang diharapkan bisa menjadi penyelamat di tengah krisis, ternyata sama terpuruknya dan tak mampu memanfaatkan momentum depresiasi rupiah, akibat beban utang, ketergantungan besar pada komponen impor, kesulitan trade financing, dan persaingan ketat di pasar global.
    Selama periode Januari-Juni 1998, ekspor migas anjlok sekitar 34,1 persen dibandingkan periode sama 1997, sementara ekspor nonmigas hanya tumbuh 5,36 persen.
    Krisis kepercayaan ini menciptakan kondisi anomali dan membuat instrumen moneter tak mampu bekerja untuk menstabilkan rupiah dan perekonomian. Sementara di sisi lain, sektor fiskal yang diharapkan bisa menjadi penggerak ekonomi, juga dalam tekanan akibat surutnya penerimaan.
    Situasi yang terus memburuk dengan cepat membuat pemerintah seperti kehilangan arah dan orientasi dalam menangani krisis. Di tengah posisi goyahnya, Soeharto sempat menyampaikan konsep “IMF Plus”, yakni IMF plus CBS (Currency Board System) di depan MPR, sebelum akhirnya ide tersebut ditinggalkan sama sekali tanggal 20 Maret, karena memperoleh keberatan di sana-sini bahkan sempat memunculkan ketegangan dengan IMF, dan IMF sempat menangguhkan bantuannya.
    Ditinggalkannya rencana CBS dan janji pemerintah untuk kembali ke program IMF, membuat dukungan IMF dan internasional mengalir lagi. Pada 4 April 1998, Letter of Intent ketiga ditandatangani. Akan tetapi kelimbungan Soeharto, telah sempat menghilangkan berbagai momentum atau kesempatan untuk mencegah krisis yang berkelanjutan.
    Bahkan memicu adrenali masyarakat, yang sebelumnya terbilang tenang menjadi beringas. Kemarahan rakyat atas ketidakberdayaan pemerintah mengendalikan krisis di tengah harga-harga yang terus melonjak dan gelombang PHK, segera berubah menjadi aksi protes, kerusuhan dan bentrokan berdarah di Ibu Kota dan berbagai wilayah lain, yang menuntun ke tumbangnya Soeharto pada 21 Mei 1998.
    Tragedi berdarah ini memicu pelarian modal dalam skala yang disebut-sebut mencapai 20 milyar dollar AS, gelombang hengkang para pengusaha keturunan, rusaknya jaringan distribusi nasional, terputusnya pembiayaan luar negeri, dan ditangguhkannya banyak rencana investasi asing di Indonesia.
    Munculnya pemerintahan baru yang tidak memiliki legitimasi, dan lebih sibuk dengan manuvernya untuk merebut hati rakyat, tidak banyak menolong keadaan dan malah memperburuk kondisi ekonomi, sosial, dan politik pada masa itu.
    3. Indikator ekonomi yang sangat relevan digunakan dalam menilai perkembangan ekonomi suatu Negara dalam perspektif ekonomi mikro diantaranya:
    a. Inflasi
    Inflasi merupakan peristiwa kenaikan harga yang terjadi dalam perekonoian yang bersifat umum dan terus-menerus untuk sekelompok barang tertentu. Inflasi mencerminkan adanya dinamika yang terjadi dalam perekonomian suatu Negara, baik yang dipengaruhi oleh sisi penawaran maupun dari sisi permintaan. Dalam setiap Negara pasti akan mengalami inflasi dalam perekonomiannya. Tingkat inflasi juga berbeda-beda tiap tahunnya pada suatu Negara.

    b. Perkembangan PDB (Product Domestic Bruto)
    Produk Domestik Bruto (PDB) adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu Negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional. PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya pertahun). Biasanya PDB dapat dihitung menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan.
    c. Tingkat Pengangguran
    Pengangguran dalam suatu Negara adalah perbedaan di antara angkatan kerja dengan penggunaan tenaga kerja yang sebenarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu. Dari jumlah tingkat pengangguran yang ada dalam suatu Negara tersebut dapat digunakan sebagai acuan yang relevan dalam mengukur tingkat perkembangan ekonomi suatu Negara.

    • SILKY ROUDHOTUS & MOHASWIN RISKI on said:

      SILKY ROUDHOTUS SA’ADAH ( 120431426409 ) OFF BL
      MOHASWIN RISKI ILHAM ( 120431426475 ) OFF BL

      Resesi adalah penurunan aktifitas ekonomi ketingkat yang yang lebih rendah dari sebelumnya. Ciri-cirinya ditandai oleh perlambatan ekonomi, yaitu laju pertumbuhan ekonomi (GDP) pada triwulan ini lebih kecil atau sama (dengan trend menurun dibanding) dengan triwulan lalu. Perekonomian ini akan mengikuti suatu perputaran bisnis (business cycle) dari laju pertumbuhan yang negatif sampai akhirnya terjadii pembalikan dimana laju pertumbuhan kembali positif. Masa selama pertumbuhan GDP negatif tersebut kita sebut masa resesi. Apabila laju perlambatan negatif tersebut terlalu besar maka sering disebut perekonomian masuk dalam depressi.
      Apabila suatu perekonomian masuk dalam resesi, maka daya beli perekonomian tersebut akan menurun. Permintaan akan barang dan jasa untuk dikonsumsi juga akan menurun, sehingga investasi juga menurun karena pengusaha akan merugi. Semakin investasi melambat semakin sedikit lapangan kerja yang akhirnya berujung semakin kecil lagi daya beli, demikian berputar seterusnya semakin kecil lagi investasi dan seterusnya.
      • Resesi turunnya GDP riil selama dua kwartal berturut-turut, ciri-cirinya:
      1. Turunnya daya beli, akibat inflasi yang tinggi, harga naik, daya beli turun, masyarakat mengurangi belanja, menabung lebih besar.
      2. Turunnya investasi, akibat turunnya konsumsi, produksi berlebihan, investasi tidak diperlukan.
      3. Turunnya kesempatan kerja, akibat investasi turun, lowongan kesempatan kerja tidak ada, pengangguran meningkat

      • Recovery, kebijakan fiskal dan kebijkan moneter. Ciri-cirinya:
      1. Membaiknya indikator ekonomi, suku bunga turun, inflasi berhasil dikendalikan, gejolak buruh turun, nilai mata uang mulai stabil.
      2. Meningkatnya investasi, adanya stimulus rangsangan ekonomi (melalui pengeluaran pemerintah), bagusnya indikator makro, pelaku usaha mulai optimis akan hari depannya ,perusahaan mulai mengkaji investasi baru.

      • Pemulihan / Recovery
      1. Mesin – mesin tua mulai diganti
      2. Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat
      3. Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik)
      4. Penjualan dan laba meningkat
      5. Investasi yang tadinya (pada lembah/resesi) dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimisme
      6. Karena permintyaan meningkat, sedangkan pada fase slump tersedia fasilitas produksi twerpasang yang banyak maka perusahaan denganm udah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta menggunakan tenaga kerja yang menganggur

      • Puncak / Peak
      1. Penggunaan kapasitas terpasang pada kondisi tertinggi
      2. Mulai merasakan kurangnya tenaga kerja, terutama tenaga kerja ahli / terampil
      3. Kekurangan bagan baku
      4. Output hanya dapat ditingkatkan dengan menambah investasi baru yang memerlukan waktu
      5. Kenaikan permintaan diikuti dengan kenaikan harga, DEMAND > SUPPLY
      6. Biaya cenderung meningkat (COST Meningkat) namun Price (harga jual ==>> Sales) juga meningkat
      7. Kegiatan usaha umumnya masih sangat menguntungkan
      8. Hingga mencapai BOOM, ditandai dengan IHSG Super BULLISH

      2. Di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah dengan percepatan yang lebih tinggi seperti yang dijelaskan di atas, Indonesia mengalami intensitas paparan krisis badai telah mencapai keadaan ekonomi hampir bangkrut.
      Krisis ekonomi – yang dipicu oleh krisis keuangan – beberapa waktu lalu, setidaknya telah memberikan indikasi yang kuat dari tiga hal. yaitu:
      Pertama, kredibilitas pemerintah telah mencapai titik nadir. Penyebab utamanya adalah karena langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah selama krisis merenspons lebih “tambal sulam”, ad-hoc, dan cenderung di jalan berputar.
      Selain itu, semua sumber daya negara yang sepenuhnya untuk menyelamatkan sektor modern dari titik kehancuran. Sementara itu, sektor tradisional, sektor informal, dan ekonomi, yang juga memiliki eksistensi di negeri ini sepertinya dilupakan penyelamatan wacana ekonomi dari yang bergema.
      Kedua, rezim Orde Baru yang selalu menempatkan pertumbuhan (growth) ekonomi telah menghasilkan kapitalisme kroni yang telah membuat struktur perekonomian sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Industri manufaktur bisa bangga akan hal itu ternyata sangat bergantung pada bahan baku impor dan tidak memiliki daya tahan. Sementara itu, karena “dianak-tirikan”, sektor pertanian juga tidak pernah matang sebagai tingkat dukungan industrialisasi. Waktu itu terjadi debar kencang industrialisasi melalui serangkaian kebijakan yang cenderung merugikan sektor pertanian. Akibatnya, sektor pertanian mampu tumbuh secara sehat dalam menanggapi perubahan pola konsumsi dan memperkuat daya saing produk ekspor Indonesia.
      Salah satu faktor yang paling penting yang dapat menjelaskan tren di atas adalah karena proses penyesuaian ekonomi dan politik (penyesuaian ekonomi dan politik) tidak berlangsung mulus dan alami. Soeharto-style state-assisted kapitalisme jelas memiliki tatanan ekonomi yang rusak dan rapuh. Memang, di satu sisi, pertumbuhan ekonomi telah dihasilkan cukup tinggi, tapi ujung-ujungnya selisih yang sebenarnya kontra-produktif bagi pertumbuhan yang berkelanjutan.
      Ketiga, rezim yang sangat korup telah membuat sendi kerapuhan ekonomi yang berpengalaman. Secara umum, segala bentuk korupsi akan mengakibatkan arah perekonomian menyebabkan alokasi sumber daya untuk kegiatan yang tidak produktif dan tidak memberikan hasil yang optimal. Dalam kondisi pertumbuhan sangat mungkin untuk terus, bahkan pada intensitas yang relatif tinggi. Namun, sampai batas tertentu pasti akan menghasilkan basis pertumbuhan lebih lemah.
      Selanjutnya, praktik praktik korupsi secara perlahan namun p asti telah merusak ekonomi dan pembusukan politik yang disebabkan oleh perilaku penguasa, elit politik, dan birokrasi. Situasi menjadi semakin buruk ketika jajaran angkatan bersenjata dan aparat penegak hukum juga juga membantu diseret ke jaringan yang praktek korupsi.
      Penghancuran kredibilitas pemerintah ditambah dengan tingginya tingkat ketidakpastian yang telah menyebabkan erosi kepercayaan (trust). Yang terjadi saat ini tidak hanya memudar kepercayaan publik pada pemerintah dan sebaliknya, tetapi juga antara pihak asing dan pemerintah, serta antara kelompok. Yang terakhir ini tercermin dengan sangat jelas dari kemarahan massa terhadap simbol-simbol kekuasaan dan kemewahan, dan etnis Tionghoa, seperti yang dikenal oleh Mei 1998.
      Sementara itu, krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dapat dilihat dari tanggapan yang sering bertentangan dengan tujuan kebijakan yang diambil oleh pemerintah. Sebagai contoh, kebijakan pemerintah harus berusaha untuk memimpin orang-orang dengan harapan yang tepat, telah mengangkat respon masyarakat terhadap kiri, dan sebaliknya. Faktor lainnya adalah distribusi pendapatan dan kekayaan lumpuh, sehingga mengakibatkan erosi solidaritas sosial.

      3.
      Indikator ekonomi yang relevan untuk menilai perkembangan suatu Negara, produk domestic bruto, adalah nilai semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu Negara pada periode tertentu. PBD diartikan sebagai nilai keseluruhan barang dan jasa yangdiproduksi di dalam wilayah dalam jangka waktu tertentu, `dan ini sangat cocok untuk dijadikan indokator untuk menilai perekonomian suatu Negara.

    • inne pramesti on said:

      SRI WAHYUNI off BL (120431413948)
      INNE PRAMESTI off BL (120431426481)

      1. a. Resesi adalah kondisi ketika GDP menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama 2 kuartal atau lebih dalam 1 tahun.
      Ciri-ciri: 1. Industri stagnan
      2. Investasi tetap
      3. Penjualan tidak bertambah
      4. Kenaikan biaya produksi
      5. Tuntutan untuk menaikkan gaji atau upah
      6. Pengangguran bertambah
      b. Depresi adalah resesi yang berlangsung lama
      Ciri-ciri: 1. Angka pengangguran tinggi
      2. Banyak perusahaan tutup
      3. Investasi rendah
      4. Pendapatan masyarakat berkurang
      5. Permintaan terhadap barang atau jasa berkurang
      6. Konjungtur rendah
      c. Recovery adalah keadaan ekonomi dalam pola konjungtur yang di tandai oleh meningkatnya kembali produksi, konsumsi, pertambahan kesempatan kerja, jumlah uang yang beredar, dan peningkatan permintaan kredit.
      Ciri-ciri: 1. Penemuan tekhnologi
      2. Mulai ada investasi
      3. Penjualan bertambah
      4. Harga mulai menunjukkan peningkatan
      d. Booming
      Ciri-ciri: 1. Tingkat permintaan kuat naik
      2. Peningkatan permintaan untuk barang-barang impor dan jasa
      3. Pendapatan pajak pemerintah akan meningkat dengan cepat
      4. Meningkatnya investasi
      5. Meningkatnya produktivitas

      2. Penyebab Krisis Ekonomi di Indonesia
      a. Stok hutang luar negri swasta yang besar dan umumnya berjangka pendek
      b. Banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia
      c. Makin tidak jelasnya arah perubahan politik
      d. Perkembangan situasi politik makin menghangat akibat krisis ekonomi

      Siklus Bisnis pada saat Indonesia Krisis Ekonomi
      a. Banyak perusahaan besar gulung tikar akibat naiknya harga bahan baku yang meroket.
      b. banyak PHK, akibatnya pengangguran meningkat 20%
      c. Pendapatan perkapita menurun drastis, akibatnya penduduk Indonesia di kategorikan sangat miskin
      d. Ekspor menurun dan impor meningkat
      e. Banyak bank-bank di Indonesia yang bangkrut akibat dari beban bunga yang tinggi
      f. Investasi yang menurun drastis

      3. a. Inflasi. Karena inflasi mencerminkan adanya dinamika ekonomi yang terjadi dalam suatu negara baik yang di pengaruhi oleh sisi penawaran atau permintaan.
      b. Pengangguran. Karena, jika banyak pengangguran, secara langsung produksi barang dan jasapun menurun, sehingga sangat berpengaruh pada perkembangan perekonomian negara.
      c. PDB. Dapat di jadikan sebagai ukuran untuk menilai prestasi pertumbuhan ekonomi dan melihat perkembangan tingkat kemakmuran masyarakat

    • anggun suandari on said:

      muant

  7. Tugas Kelompok Mata Kuliah “ Pengantar Ekonomi Makro “ pertemuan ke-4:
    1. Dewi Maharani 120431413957 / BL
    2. Karinatul Aini 120431413955 / BL

    1. Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.
    Ciri-ciri perekonomian Resesi :
    • Pengangguran Tinggi
    • Tingkat permintaan beli rendah atau daya beli yang rendah bila dibandingkan dengan daya produksi yang terpasang / tersedia untuk menghasilkan barang konsumsi. Yang berakibat pada rendahnya laba perusahaan
    • Perusahaan bisa merugi
    • Keyakinan akan masa depan makin kecil / menipis. Bisa ditandai dengan anjloknya Index harga saham gabungan
    • Perusahaan tidak bersedia mengambil resiko investasi baru.
    • Pendapatan nasional tidak bertambah lagi, bahkan merosot beberapa persen.

    2. Depresi adalah resesi ekonomi yang berlangsung lama atau suatu keadaan dimana menurunnya tingkat suku bunga dan harga saham secara drastic yang mengakibatkan timbulnya kekacauan ekonomi diseluruh dunia.

    Ciri-ciri perekonomian Depresi:
    • Terjadinya kerugian besar yang dialami oleh gugusan berbagai macam bisnis.
    • Industri yang bergerak di bidang barang-modal (capital goods) misalnya bahan mentah, konstruksi, dan peralatan industri mengalami fluktuasi yang lebih luas ketimbang industri barang-konsumen

    3. Recovery yaitu keadaan ekonomi dalam pola konjungtur yang ditandai oleh mulai meningkatnya kembali produksi dan konsumsi, pertambahan kesempatan kerja, jumlah uang beredar dan peningkatan permintaan kredit.

    Ciri-ciri perekonomian Recovery:
    • Mesin – mesin tua mulai diganti
    • Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat
    • Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik)
    • Penjualan dan laba meningkat
    • Investasi yang tadinya (pada lembah/resesi) dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimisme
    • Karena permintaan meningkat, sedangkan pada fase slump tersedia fasilitas produksi terpasang yang banyak maka perusahaan dengan mudah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta menggunakan tenaga kerja yang menganggur.
    4. Booming adalah puncak siklus ekonomi dimana permintaan sangat tinggi sehingga GDP yang dihasilkan melebihi GDP potensialnya

    Ciri-ciri perekonomian Booming:
    • Pertumbuhan GDP diatas rata-rata
    • Kenaikan disposable income(Penghasilan pribadi) setelah dikurangi dengan pajak
    • Tingkat pengangguran yang rendah
    • Kenaikan consumer spending
    • Kredit akan bergerak tak terkendali
    • Moral Hazard akan tumbuh sehingga masa kemakmuran akan berbalik menjadi krisis
    • Permintaan atas obligasi meningkat
    • Kurva persediaan dengan permintaan (Bd dan Bs) keduanya bergeser ke kanan,
    • Investor akan cenderung untuk berinvestasi dalam sektor industri yang sedang bertumbuh.
    2. Kondisi Siklus Bisnis Periode 1997/1998
    Pada 1997, sebenarnya kondisi ekonomi di Indonesia tampak jauh dari krisis. Nilai tukar rupiah terhadap dolar, menguat. Dalam kondisi ekonomi seperti itulah, banyak perusahaan di Indonesia meminjam uang dalam bentuk dolar AS.
    Sekitar bulan Juli 1997, di Indonesia terjadi depresiasi nilai tukar rupiah, nilai rupiah terus merosot. Di bulan Agustus 1997 nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah dari Rp2.500,00 menjadi Rp2.650,00 per dolar AS. Sejak saat itu, posisi mata uang Indonesia mulai tidak stabil. Padahal, pada saat itu hutang luar negeri Indonesia, baik swasta maupun pemerintah, sudah sangat besar. Tatanan perbankan nasional kacau dan cadangan devisa semakin menipis.Perusahaan yang tadinya banyak meminjam dolar (ketika nilai tukar rupiah kuat terhadap dolar), kini sibuk memburu atau membeli dolar untuk membayar bunga pinjaman mereka yang telah jatuh tempo, dan harus dibayar dengan dolar. Nilai rupiah pun semakin jatuh lebih dalam lagi. IMF datang dengan paket bantuan 23 milyar dolar, tapi tidak mampu memperbaiki keadaan. Malahan akhirnya paket bantuan IMF itu, yang dalam penggunaannya banyak terjadi penyelewengan, semakin menambah beban utang yang harus ditanggung oleh rakyat Indonesia.
    Indonesia merupakan salah satu Negara di Asia yang mengalami krisis mata uang, kemudian disusul oleh krisis moneter dan berakhir dengan krisis ekonomi yang besar. Krisis moneter yang terjadi di Indonesia sejak awal Juli 1997, di akhir tahun itu telah berubah menjadi krisis ekonomi. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, menyebabkan harga-harga naik drastis. Banyak perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara besar-besaran. Jumlah pengangguran meningkat dan bahan-bahan sembako semakin langka.Krisis ini tetap terjadi, meskipun fundamental ekonomi Indonesia di masa lalu dipandang cukup kuat dan disanjung-sanjung oleh Bank Dunia. Yang dimaksud fundamental ekonomi yang kuat adalah pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, laju inflasi terkendali, cadangan devisa masih cukup besar dan realisasi anggaran pemerintah masih menunjukkan sedikit surplus.
    Menanggapi perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang mulai merosot sejak bulan Mei 1997, pada bulan Juli 1997 BI melakukan empat kali intervensi dengan memperlebar rentang intervensi. Namun pengaruhnya tidak banyak. Nilai rupiah dalam dolar AS terus tertekan. Tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai nilai terendah hingga saat itu, yakni dari Rp2.655,00 menjadi Rp2.682,00 per dollar AS. BI akhirnya menghapuskan rentang intervensi dan pada akhirnya rupiah turun ke Rp2.755,00 per dollar AS. Tetapi terkadang nilai rupiah juga mengalami penguatan beberapa poin. Misalnya, pada bulan Maret 1988 nilai rupiah mencapai Rp10.550,00 untuk satu dollar AS, walaupun sebelumnya, antara bulan Januari dan Februari sempat menembus Rp11.000,00 rupiah per dollar AS. Selama periode Agustus 1997-1998, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terendah terjadi pada bulan Juli 1998, yakni mencapai nilai antara Rp14.000,00 dan Rp15.000,00 per dollar AS. Sedangkan dari bulan September 1998 hingga Mei 1999, perkembangan kurs rupiah terhadap dolar AS berada pada nilai antara Rp8.000,00 dan Rp11.000,00 per dollar AS. Selama periode 1 Januari 1998 hingga 5 Agustus 1998, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan mata uang-mata uang Negara-negara Asia lainnya yang juga mengalami depresiasi terhadap dolar AS selama periode tersebut.
    Sebagai konsekuensinya, BI pada tanggal 14 Agustus 1997 terpaksa membebaskan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing. Dengan demikian, BI tidak melakukan intervensi lagi di pasar valuta asing, sehingga nilai tukar ditentukan oleh kekuatan pasar.
    Sejak bulan Juli 1997, Indonesia mulai terkena imbas krisis moneter yang menimpa dunia khususnya Asia Tenggara. Struktur ekonomi nasional Indonesia saat itu masih lemah untuk mampu menghadapi krisis global tersebut. Dampak negatif yang ditimbulkan antara lain, kurs rupiah terhadap dollar AS melemah pada tanggal 1 Agustus 1997, pemerintah melikuidasi 16 bank bermasalah pada akhir tahun 1997, pemerintah membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang mengawasi 40 bank bermasalah lainnya dan mengeluarkan Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) untuk membantu bank-bank bermasalah tersebut. Namun kenyataannya terjadi manipulasi besar-besaran terhadap dana KLBI yang murah tersebut. Dampak negatif lainnya adalah kepercayaan internasional terhadap Indonesia menurun, perusahaan milik Negara dan swasta banyak yang tidak dapat membayar utang luar negeri yang akan dan telah jatuh tempo, angka pemutusan hubungan kerja meningkat karena banyak perusahaan yang melakukan efisiensi atau menghentikan kegiatannya, kesulitan menutup APBN, biaya sekolah di luar negeri melonjak, laju inflasi yang tinggi, angka kemiskinan meningkat dan persediaan barang nasional, khususnya Sembilan bahan pokok di pasaran mulai menipis pada akhir tahun 1997. Akibatnya, harga-harga barang naik tidak terkendali dan berarti biaya hidup semakin tinggi.
    Selain memberi dampak negatif, krisis ekonomi juga membawa dampak positif. Secara umum impor barang, termasuk impor buah menurun tajam, perjalanan ke luar negeri dan pengiriman anak sekolah ke luar negeri,kebalikannya arus masuk turis asing akan lebih besar, meningkatkan ekspor khususnya di bidang pertanian, proteksi industri dalam negeri meningkat, dan adanya perbaikan dalam neraca berjalan. Krisis ekonomi juga menciptakan suatu peluang besar bagi Unit Kecil Menengah (UKM) dan Industri Skala Kecil (ISK), yakni pertumbuhan jumlah unit usaha,jumlah pekerja atau pengusaha, munculnya tawaran dari IMB untuk melakukan mitra usaha dengan ISK, peningkatan ekspor, dan peningkatan pendapatan untuk kelompok menengah ke bawah.Namun secara keseluruhan, dampak negatif dari jatuhnya nilai tukar rupiah masih lebih besar dari dampak positifnya.

    3. Indikator ekonomi yang sangat relevan dalam menilai perkembangan ekonomi suatu Negara
     Produk Domestik Bruto
    PDB adalah jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan dalam harga pasar. Kelemahan PDB sebagai ukuran pertumbuhan ekonomi adalah sifatnya yang global dan tidak mencerminkan kesejahteraan penduduk.
     PDB per Kapita atau Pendapatan Perkapita
    PDB per kapita merupakan ukuran yang elbih tepat karean telah memperhitungkan jumlah penduduk. Jadi ukuran pendapatn perkapita dapat diketahui dengan membagi PDB dengan jumlah penduduk. Jika pendapatan Negara itu tinggi maka pertumbuhan ekonominya juga cepat tetapi sebaliknya jika pendapatan suatu negaraitu di bawah rata – rata maka pertumbuhan ekonominya juga rendah.
     Pendapatan Per jam Kerja
    Suatu negara dapat dikatakan lebih maju dibandingkan negara lain bila mempunyai tingkat pendapatan atau upah per jam kerja yang lebih tinggi daripada upah per jam kerjadi negara lain untuk jenis pekerjaan yang sama.
     Gross Domestic Product ( GDP ) yang di dalamnya terdapat konsumsi personal, pembelian pemerintah, persediaan, dan neraca perdagangan (ekspor dan impor)
    GDP atau PDB ( Produk Domestik Bruto ) adalah nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun). PDB hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak.
     Inflasi
    Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Inflasi dapat terjadi karena dua hal yaitu karena tarikan permintaan dan desakan biaya
     Tingkat Pengangguran
    Pengangguran dapat dihubungkan dengan indicator pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan ekonomi merupakan akibat dari adanya peningkatan kapasitas produksi yang merupakan turunan dari peningkatan investasi. Jadi jelas bahwa, pertumbuhan ekonomi berhubungan erat dengan peningkatan penggunaan tenaga kerja, begitu pula dengan investasi. Dengan meningkatnya investasi pasti permintaan tenaga kerja akan bertambah, sehingga dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang diakibatkan adanya peningkatan investasi berpengaruh terhadap penurunan tingkat pengangguran, demikian sebaliknya. Semakin tinggi tingkat pengangguran maka daya beli produk yang dihasilkan akan mengalami penurunan, yang berarti pergerakan perekonomian akan mengalami hambatan.

  8. Nama Angggota Kelompok
    Nindri Yastuti (120431413932)
    Zulfa Fatati Nadya Nafis (120431413940)
    1. Berikan ulasan mengenai ciri-ciri perekonomian pada kondisi resesi, depresi, recovery dan booming
    2. Untuk Indonesia pada periode 1997/1998 terjadi krisis ekonomi. Jelaskan kondisi siklus bisnis yang terjadi pada periode waktu tersebut
    3. Indikator ekonomi apa yang sangat relevan dalam menilai perkembangan ekonomi suatu negara. Jelaskan!

    Jawaban :
    1. A. Resesi
    Resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang meluas ke mana-mana. Penurunan semacam ini biasanya menyebabkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Suatu resesi yang serius biasanya disebut depresi. Ciri-cirinya sebagai berikut :
    – Pengangguran Tinggi
    Turunnya kesempatan kerja. akibat investasi turun, lowongan kesempatan kerja tidak ada dan mengakibatkan pengangguran meningkat.
    – Tingkat permintaan beli rendah atau daya beli yang rendah bila dibandingkan dengan produksi yang ditawarkan, dikarenakan inflasi yang mengakibatkan harga-harga barang naik dan berakhir pada rendahnya laba perusahaan
    – Perusahaan bisa merugi karena kemampuan membeli konsumen rendah
    – Perusahaan tidak bersedia mengambil resiko investasi baru.
    Turunnya investasi akibat turunnya konsumsi, menyebabkan produksi berlebihan, sehingga investasi tidak diperlukan.
    – Keyakinan akan masa depan makin kecil / menipis. Bisa ditandai dengan anjloknya Index harga saham gabungan
    – turunnya GDP riil selama dua kwartal berturut-turut
    B. Depresi
    Depresi adalah suatu resesi yang mencapai titik terparah. Resesi menyebabkan GDP terus menurun, pengangguran meningkat. suatu saat GDP berada pada kondisi terbawah. karena produksi tidak mungkin berhenti atau pembelian berhenti sama sekali. Ciri-cirinya:
    – Banyak perusahaan Tutup
    – Investasi rendah
    – Pendapatan masyarakat berkurang
    – Permintaan Terhadap barang/jasa berkurang
    – Pengangguran bertambah
    – Konjungtur Rendah/Baisse
    – Tingginya pengangguran
    Indonesia pernah mencapai tingkat pengangguran 40% dari angkatan kerja.
    – Kapasitas produksi yang menganggur
    cenderung tidak beroperasi daripada mengalami kerugian besar.
    – Resiko tinggi

    C. Recovery
    Pemulihan kondisi ekonomi suatu negara melalu kebijakan moneter dan fiskal. ciri-cirinya adalah :
    – Membaiknya indikator ekonomi : suku bunga turun, inflasi berhasil dikendalikan, gejolak buruh turun, nilai mata uang mulai stabil
    – Meningkatnya investasi : adanya stimulus rangsangan ekonomi (melalui pengeluaran pemerintah), bagusnya indikator makro, pelaku usaha mulai optimis akan hari depannya (perusahaan mulai mengkaji investasi baru)
    – Mesin – mesin tua mulai diganti.
    – Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat.
    – Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik).
    – Penjualan dan laba meningkat.
    – Investasi yang tadinya dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimisme.
    – Karena permintaan meningkat, sedangkan pada fase resesi tersedia fasilitas produksi terpasang yang banyak maka perusahaan dengan mudah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta memanfaatkan tenaga kerja yang menganggur.

    D. Booming
    Ledakan ekonomi (boom) terjadi bila permintaan sangat tinggi sehingga GDP yang dihasilkan melebihi GDP potensialnya. pada posisi ini, kinerja ekonomi mencapai tingkat yang maksimum.
    – Pencapaian GDP Potensial
    kapasitas digunakan secara penuh, Kelebihan permintaan faktor produksi dibanding penawarannya
    – Tekanan Inflasi
    Masyarakat memiliki banyak uang, permintaan produk meningkat, sedangkan penawaran produk relatif stabil. kondisi ini cenderung menyebabkan ketidak seimbangan penawaran dan permintaan sehingga dapat menyebabkan inflasi meningkat.
    – Penggunaan kapasitas terpasang pada kondisi tertinggi.
    – Mulai merasakan kurangnya tenaga kerja, terutama tenaga kerja ahli/terampil.
    – Kekurangan bahan baku.
    – Output hanya dapat ditingkatkan dengan menambah investasi baru yang memerlukan waktu.
    – Kenaikan permintaan diikuti dengan kenaikan harga. Sehingga permintaan lebih tinggi daripada penawaran.
    – Biaya cenderung meningkat sehingga harga jual juga meningkat.
    – Kegiatan usaha umumnya masih sangat menguntungkan.
    – Hingga mencapai booming, ditandai dengan IHSG Super BULLISH.

    2. Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 1998 merupakan angka yang paling kecil diantara tahun-tahun sebelum dan sesudahnya yaitu sebesar -13,1%. Hal ini dikarenakan tahun tersebut adalah dampak dari krisis ekonomi Indonesia yang terjadi pada tahun 1997.
    Dengan adanya krisis ekonomi pada tahun 1997 mengakibatkan semua lapangan usaha dalam berbagai sektor tidak dapat memberikan kontribusi pada pendapatan negara, bahkan semua sektor lapangan usaha mengalami kerugian dan banyak yang terpaksa gulung tikar serta mengadakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan para pegawaina. Namun peristiwa tersebut berangsur-angsur mulai membaik, ini dibuktikan dengan GDP Indonesia setelah tahun 1998 hingga tahun 2008 yang mencapai level 6%.
    Pada tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar Baht Thailand terhadap dolar AS mengalami suatu goncangan hebat akibat para investor asing mengambil keputusan ‘ jual’. Pada hari Rabu, 2 Juli 1997, bank sentral Thailand terpaksa bahwa nilai tukar baht di bebaskan dari ikatan dengan dolar AS. Sejak itu nasibnya di serahkan sepenuhnya kepada pasar. Hari itu juga pemerintah thailand meminta bantuan IMF. Pengumuman itu mendepresikan nilai baht sekitar 15% hingga 20% hingga mencapai nilai terendah, yakni 28,20 baht per dolar AS.
    Sekitar bulan September 1997, nilai tukar rupiah yang terus melemah mulai menggoncang perekonomian nasional. Pada akhir bulan Oktober 1997, lembaga keuangan internasional itu mengumumkan paket bantuan keuangannya pada Indonesia yang mencapai 40 miliar dolar AS, 23 miliar di antaranya adalah pertahanan lapis pertama (front-line defence). paket progam pemulihan ekonomi yang di syaratkan IMF pertama kali diluncurkan pada bulan November 1997, bersama pinjaman angsuran pertama senilai 3 miliar dolar AS.
    Berbeda dengan Korea Selatan dan Thailand, dua negara yang sangat serius dalam melaksanakan program reformasi, pemerintah Indonesia ternyata tidak melakukan reformasi sesuai kesepakatannya dengan IMF. Akhirnya, pencairan pinjaman angsuran kedua senilai 3 miliar dolar AS yang seharusnya di lakukan pada bulan Maret 1998 terpaksa di undur.
    Menjelang minggu-minggu terakhir bulan Mei 1998, DPR untuk pertama kalinya dalam sejarah indonesia dikuasai/di duduki oleh ribuan mahasiswa/siswi dari puluhan perguruan tinggi dari Jakarta dan luar Jakarta. Puncak dari keberhasilan gerakan mahasiswa tersebut, di satu pihak, dan dari krisis politik di pihak lain, adalah pada tanggal 21 Mei 1998, yakni Presiden Soeharto mengundurkan diri dan di ganti oleh wakilnya, B.J.Habibie. Tanggal 23 Mei 1998, presiden Habibie membentuk kabinet baru, awal dari terbentuknya pemerintahan transisi.
    Pada awalnya pemerintahan yang di pimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi. Akan tetapi setelah setahun berlalu, masyarakat mulai melihat bahwa sebenarnya pemerintahan baru ini tidak berbeda dengan pemerintahan sebelumnya. Mereka juga orang-orang rezim Orde Baru, dan tidak ada perubahan-perubahan yang nyata. Bahkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) semakin menjadi-jadi, kerusuhan muncul dimana-mana, dan masalah Soeharto tidak terselesaikan. Akhirnya, banyak kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya pemerintahan transisi daripada pemerintahan reformasi.

    3. A. Produk Domestik Bruto (PDB)
    PDB diyakini sebagai indikator ekonomi terbaik dalam menilai perkembangan
    ekonomi suatu negara. Perhitungan pendapatan nasional ini mempunyai ukuran makro utama tentang kondisi suatu negara. Pada umumnya, perbandingan kondisi antar negara dapat dilihat dari pendapatan nasional negara tersebut sebagai gambaran bagi Bank Dunia untuk menentukan apakah suatu negara berada dalam kelompok negara maju atau berkembang melalui pengelompokkan besarnya PDB. Dan PDB suatu negara sama dengan total pengeluaran atas barang dan jasa dalam perekonomian.
    B. Inflasi
    Inflasi merupakan peristiwa kenaikan harga yang terjadi didalam perekonomian yang berfat umum dan terus-menerus untuk sekolompok barang tertentu. Inflasi mecerminkan adanya dinamika yang terjadi di dalam perekonomian negara, baik dipengaruhi dari sisi penawaran maupun permintaan. Inflasi yang tinggi mencerminkan keadaan perekonomian negara tersebut sedang mengalami krisis. Harga-harga semakin naik sehingga menyebabkan kemampuan membeli masyarakat menurun. Secara otomatis kesejahteraan masyarakatpun menurun.
    C. Tingkat pengangguran
    Pengangguran didalam ssuatu negara adalah perbedaan antara angkatan kerja dengan penggunaan tenaga kerja yang sebenarnya. Sedangkan yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah tenaga kerja yang terdapat didalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu. Tingkat penganggguran dapat menjadi indikator perkembangan ekonomi yang relevan dikarenakan dapat menunjukkan seberapa banyak penduduk negara tersebut yang terjamin kelangsungan hidupnya karena memiliki penghasilan tetap.

  9. Nama Kelompok:
    Didin January (Offering BL)
    Siti Aisyah (Offering BL)
    1. Ciri-ciri perekonomian pada kondisi resesi, depresi, recovery dan booming
    a. Resesi
    Dalam ekonomi makro, resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi. Resesi ekonomi yang berlangsung lama disebut depresi ekonomi. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse).
    Ciri perekonomian pada masa resesi:
    Pertumbuhan ekonomi menurun
    Investor banyak yang menarik uangnya
    Tingkat pengangguran meningkat
    Kesempatan kerja minim.
    Jatuhnya nilai tukar mata uang doestik terhadap dollar
    b. Depresi
    Depresi adalah resisi yang berlangsung lama. Sebuah periode siklus penurunan yang serius dalam perekonomian nasional, ditandai oleh:
    Menurunya tingkat aktivitas bisnis di seluruh sektor ekonomi
    Banyaknya perusahaan yang mengalami kebangkrutan
    Penurunan PDB secara drastis
    Jumlah pengangguran meningkat tajam
    c. Recovery
    Recovery adalah pemulihan ekonomi yang disebabkan oleh resesi maupun depresi ekonomi. Ciri-cirinya:
    Banyak Investor yang mulai menanamkan modal nya kembali.
    Stabilnya nilai tukar mata uang.
    Jumlah pengangguran mulai menurun
    PDB berangsur-angsur mulai meningkat
    d. Booming
    Booming merupakan tingkat dimana pertumbuhan ekonomi suatu negara mengalami masa keemasannya atau pada masa puncaknya. Ciri-cirinya:
    Arus modal maupu investasi meningkat tajam.
    Pertumbuhan ekonomi sanat tinggi
    Banyaknya perusahaan maupun bisnis yang tumbuh dengan pesat.
    Menurunnya jumlah pengangguran secara drastis
    Nilai mata uang domestik menguat.

    2. Kondisi siklus bisnis indonesia pada periode waktu periode 1997/1998 saat terjadi krisis ekonomi
    Saat krisis ekonomi melanda indonesia pada periode tahun 1997/1998, tingkat inflasi meningkat taja dan pernah mencapai angka 82,40 persen pada september 1998. Tingkat inflasi yang tinggi pada saat itu mencerminkan ketidakstabilan harga, hal ini tentu saja mengurangi daya beli masyarakat. Ketika inflasi terjadi, jumlah uang yang beredar akan meningkat. Hal ini berdampak pada terdepresiasinya nilai tukar ruiah. Nilai tukar ruiah mengalami fluktuasi dari tahun-ketahun pada saat sebelum krisis yaitu dari tahun 1993-1996, nilai tukar ruiah berada pada kisaran Rp 2.110 – Rp 2.383 per US Dollar. Namun ketika terjadi krisis eonomi yang melanda kawasan Asia pada pertengahan 1997, perekonomian indonesia terkena dampak negatifnya. Krisis ekonomi itu diawali dengan melemahnya nilai tukar bath Thailand yang melahirkan contagion-effect (efek menular kenegara lain) dan menyebabkan krisis mata uang ke negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.
    Krisis mata uang yang melanda Indonesia ditandai dengan melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap dollar pada pertengahan tahun 1997. Rupiah yang bernilai Rp 2.540 per US Dollar pada bulan Juni 1997, mengalami depresiasi secara terus menerus hingga akhir tahun 1997 mencapai Rp 4.650 per US Dollar. Untuk menahan laju nilai tukar Rupiah ini, maka pada tanggal 14 Agustus 1997 pemerintah melepaskan sistem nilai kurs mengambang terkendali (managed floating system) dan menerepkan sistem kurs mengambang bebas (free floating system). Namun, memasuki tahun 1998 kondisi nilai tukar Ruiah semakin parah dan puncaknya mencapai Rp 14.850 per Dollar pada juni 1998.
    Untuk meredam melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar dan tingkat Inflasi yang tinggi ini, Bank Indonesia meningkatkan tingkat suku bunga SBI yang pada buan desember 1998 menyentuh angka 61 persen per 3 bulan. Langkah yang dilakukan ini memang berhasil disalah satu sisi menurunkan laju inflasi dari 77,63 persen pada tahun 1998 menjadi 2 persen pada akhir tahun 1999. Namun disisi lain keadan ini berdampak kurang baik pada tingkat investasi di indonesia. Salah satu buktinya yaitu pada tahun 1997 pelarian arus modal keluar mencapai 3,5 milyar Dollarr, sementara pada tahun 1998-1999 mengalami peningkatan sebesar 19,7 milyar Dollar dan 11,3 milyar Dollar.
    Pelarian modal ini mengakibatkan dana untuk investasi menurun tajam, akibatnya perputaran dana disektor riil, dan berdampak pada penyerapan tenaga kerja. Akibat krisis finansial yang terjadi, banyak pengusahayang gulung tikar karena dililit hutang bank, sehingga banyak pekerja ata buruh pabrik yang terpaksa di PHK atau dibebas tugaskan oleh perusahaan. Ini menyebabkan ledakan jumlah pengangguran di tahun 1998 sekitar 1,4 juta pengangguran terbuka baru.
    3. Indikator ekonomi apa yang sangat relevan dalam menilai perkembangan ekonomi suatu negara
    GDP perkapita
    Suatu negara dapat dikatakan sebagai negara yang besar atau mempunyai ekonomi yang kuat apabila mempunyai tingkat pendapatan perkapita penduduk, semakin tinggi tingkat pendapatan perkapita maka semakin maju negara tersebut.
    PDB
    Semakin tinggi PDB suatu negara maka semakin besar pula tingkat perkembangan dan pertumbuhan negara itu.
    HDI (Human Development Index)
    HDI merupakan tingkat pembangunan manusia yang dapat diukur milai dari angka 0 sampai 1.
    Tingkat pengangguran
    Tingkat pengangguran juga merupakan salah satu indikator perkembangan ekonomi suatu negara. Semakin rendah tingkat pengangguran maka tingkat ekonomi dan pekembangan semakin negara itu semakin baik.

  10. The next duty on 24 september 2012.
    1.Explaine..what relationship between iflation and unemployment
    2.What do you about economic growth.
    3.What factors can affecting economic growth in the countries
    (mam)

  11. Zainu Rochim on said:

    Nama kelompok :
    Zainul Rochim (120431426502) offering BL
    Moh. Suhaili (120431426433) offering BL
    1. Ciri-ciri perekonomian pada kondisi resesi, depresi, recovery, dan booming :
    Dalam ekonomi makro, resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi. Resesi akan mengakibatkan meningkatnya pengangguran.

    Depresi ekonomi merupakan resesi ekonomi yang berlangsung lama. Penurunan drastis tingkat ekonomi (biasanya akibat depresi parah, atau akibat hiperinflasi) disebut kebangkrutan ekonomi (economy collapse). Selain itu, depresi juga di artikan jika penurunan pertumbuhan ekonomi riil lebih dari 10%. Hal ini mengakibatkan tingkat pengangguran tinggi.

    Pemulihan Ekonomi ( recovery ) adalah economic recovery yaitu keadaan ekonomi dalam pola konjungtur yang ditandai oleh mulai meningkatnya kembali produksi dan konsumsi, pertambahan kesempatan kerja, jumlah uang beredar dan peningkatan permintaan kredit. Namun, hal tersebut kadang juga disebut ekspansi (expansion) bila gerakan menarik ini terjadi selama minimal dua triwulan berturut-turut.

    Booming terjadi karena berbagai factor, diantaranya pertumbuhan ekonomi yang begitu baik, sehingga titik kulminasinya jauh di atas biasanya dan menyebabkan permintaan sangat tinggi sehingga GDP yang dihasilkan melebihi GDP potensialnya.

    2. Periode 1997/1998 terjadi krisis ekonomi di Indonesia
    Stok hutang luar negeri swasta yang sangat besar dan umumnya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi bagi “ketidakstabilan”. Hal ini diperburuk oleh rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung mengabaikan, dari para menteri di bidang ekonomi maupun masyarakat perbankan sendiri menghadapi besarnya serta persyaratan hutang swasta tersebut. Akan tetapi untuk hutang yang dibuat oleh sektor swasta Indonesia, pemerintah sama sekali tidak memiliki mekanisme pengawasan. Setelah krisis berlangsung, barulah disadari bahwa hutang swasta tersebut benar -benar menjadi masalah yang serius. Antara tahun 1992 sampai dengan bulan Juli 1997, 85% dari penambahan hutang luar negeri Indonesia berasal dari pinjaman swasta (World Bank, 1998). Pada saat krisis terjadi, rata-rata batas waktu pinjaman sektor swasta adalah 18 bulan, dan menjelang Desember 1997 jumlah hutang yang harus dilunasi dalam tempo kurang dari satu tahun adalah sebesar US$20,7 milyar (World Bank 1998).
    Terkait erat dengan masalah di atas, adalah banyaknya kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan tersebut, masalah hutang swasta eksternal langsung beralih menjadi masalah perbankan dalam negeri. Hal ini karena ketika nilai rupiah mulai terdepresiasi, sistem perbankan tidak mampu menempatkan dirinya sebagai “peredam kerusakan”, tetapi justru menjadi korban langsung akibat neracanya yang tidak sehat. Sejalan dengan makin tidak jelasnya arah perubahan politik, maka isu tentang pemerintahan otomatis berkembang menjadi persoalan ekonomi pula. Banyaknya pihak yang memiliki vested interest dengan intrik-intrik politiknya yang menyebar ke mana-mana telah menghambat atau menghalangi gerak pemerintah, untuk mengambil tindakan tegas di tengah krisis. Jauh sebelum krisis terjadi, investor asing dan pelaku bisnis yang bergerak di Indonesia selalu mengeluhkan kurangnya transparansi, dan lemahnya perlindungan maupun kepastian hukum.Perkembangan situasi politik telah makin menghangat akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri.Faktor ini merupakan hal yang paling sulit diatasi. Kegagalan dalam mengembalikan stabilitas sosial-politik telah mempersulit kinerja ekonomi dalam mencapai momentum pemulihan secara mantap dan berkesinambungan.Dan pada puncaknya Mei 1998 Indonesia mengalami krisis moneter dalam segala sector.

    3. Indikator ekonomi yang relevan dalam perkembangan ekonomi suatu negara
    • Faktor Sumber Daya Manusia
    Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.

    • Faktor Sumber Daya Alam
    Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
    • Inflasi
    inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang. Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu.
    • GDP
    produk domestik bruto (PDB) adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional.PDB diartikan sebagainilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi didalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu.Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu Negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai factor produksi produksi dalam negeri atau tidak.
    • Tingkat Pengangguran
    Pengangguran dalam suatu Negara adalah perbedaan diantara angkatan kerja dengan penggunaan tenaga kerja yang sebenarnya.Sedangkan yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah jumlah tenaga kerja yang terdapat dalam suatu perekonomian pada suatu waktu tertentu. Pengangguran seringkali menjadi masalah dalam perekonomian karena dengan adanya pengangguran, produktivitas dan pendapatan masyarakat akan berkurang sehingga dapat menyebabkan timbulnya kemiskinan dan masalah-masalah sosial lainnya.

  12. Vera Febriani Dewi on said:

    Duty introductory macro economy to date 24 august 2012
    NAME OF GROUP:
    -VERA FEBRIANI DEWI_120431426394_OFF.BL
    -OKFI ALMITA WESTRI_120431426503_OFF.BL

    1. The relationship between inflation and unemployment
    Unemployment is a term for people who do not work at all, is looking for a job, working less than two days for a week, or someone who was trying to get a decent job. Unemployment is generally caused due to the amount of the labor force or job seekers are not comparable to the amount of employment that exist which are able to absorb them. Unemployment is often a problem in the economy because of unemployment, productivity and people’s income will be reduced so that it can cause the incidence of poverty and other social problems.
    The unemployment rate can be calculated by comparing the total number of unemployed labor force expressed in percent. The absence of income caused the unemployed should reduce spending konsumsinya which caused the decrease in the level of prosperity and well-being. Prolonged unemployment can also cause a bad psychological effect on the unemployed and their families. The unemployment rate that is too high can also lead to political turmoil and social security so as to interfere with the growth and economic development. Long-term consequences is the decrease in GNP and per capita income of a country. In developing countries such as Indonesia, the term ‘ disguised unemployment ‘ where work must be done with a little labor, performed by more people.
    Inflation is a process of rising prices in General and continuous (continuous) with regard to market mechanisms that can be caused by a variety of factors, among others, the Community consumption which increased liquidity in the market, soaring triggers or even speculation, consumption is up as well due to the inconvenience of the lancaran distribution of goods. In other words, inflation is also the process of decreasing the value of continuous uangsecara eyes. Inflation is the process of an event, not a low level of high prices. This means that the price level is considered high is not necessarily indicate inflation. Inflation is an indicator to see the level of change, and is considered to be the case if the price increase takes place continuously and mutual influence-influence. The term is also used to mean inflation is an increase in money supply which is sometimes seen as the cause of rising prices. There are many ways to measure the inflation level, two of the most commonly used is the CPI and the GDP Deflator.
    There are four factors that determine the level of inflation. First, money in circulation either cash or giro. Secondly, a comparison between the monetary sector and physical goods that are available. Third, bank interest rates also influence the rate of inflation. Interest rates in Indonesia including higher than countries in the Asian region. Fourth, the inflation rate is determined physical infrastructure factors. Because of skyrocketing inflasipun triggered by Government policies that attract subsidies so prices of electricity and FUEL increases. The hike was pretty damning the lower layers of society because it may cause the multiplier effect, pushing price increases of other goods that are in the process of production and its distribution using BBM.
    The high inflation rate will further lower the purchasing power of the people. To be able to hang on to the level of purchasing power as before, the workers should get a salary at least equal to the level of inflation. If not, the people are no longer able to buy goods that are produced. If the items produced are not anyone buys it will be a lot of companies that reduced benefits. If corporate profits are reduced then the company will strive to reduce cost as a consequence of the decline in corporate profits. This would encourage companies to reduce the number of workers/by posting “LAID OFF the workers. One way out of this crisis is to stabilize the rupiah. Improving the exchange rate of rupiah depends upon not only the money suplly of the IMF, but also foreign investors (global investment society) siphon capital into Indonesia (capital inflow). Because of this the then controlling inflation rate is important in order to control the unemployment figures.
    Inflation can be prevented or inhibited by increasing unemployment means more unemployment tinggiangka then the lower inflasinya, otherwise the lower angkapengangguran then the higher inflation rate was due to the low levels of unemployment dayabeli the community the greater the impact on the meningkatny demand for barangsehingga prices were climbing, then there was a great inflation.

    2. I think economic growth is the process of changing the economic conditions of a country on an ongoing basis to better circumstances during a certain period. Economic growth can be defined as the process of increase of production capacity of an economy that is manifested in the form of increase in national income. The economic growth is an indication of the success of economic development.
    The economic growth of a country can be measured by comparing, for example, to national measures, Gross National Product (GNP), who was walking with the previous year.

    3. Factors can affecting economic growth in the contries are
    a. The human resource factor, is similar to the process of development, economic growth is also affected by TBS. Human resources is the most important factor in the process of rapid development, the slowness of the development process depends on the State and its human resource development as a subject has sufficient competence to carry out the development process.

    b. Science and technology factors, of development of science and technology that is rapidly pushing the acceleration of the process of development, the changing of the working patterns of using human hands being replaced by sophisticated machines have an impact upon aspects of efficiency, quality and quantity of a series of economic development activities which are performed and ultimately result in the acceleration of the rate of growth of the economy.

    c. Cultural factors, provide a distinctive impact on economic development is done, these factors can serve as power stations or driving the development process but can also be a barrier to development. A culture that can encourage the development of an attitude of hard work and smart work, honest, resilient and so on. As for the culture that could hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, CCN, and so on.

    d. Capital Resources, capital required human resources to cultivate and improve the quality of SCIENCE and SDA. Capital resources in the form of capital goods is very important for the development and smooth economic development because capital goods can also increase productivity.

    • firda rityawati on said:

      1) a) Perekonomian pada kondisi resesi
      Cirri-cirri dari resesi ekonomi
      1) Kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.
      2) Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.
      3) Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.
      b) Perekonomian pada kondisi depresi
      Ciri-ciri dari depresi ekonomi
      1) Terjadinya kerugian besar yang dialami oleh gugusan berbagai macam bisnis
      2) Fakta bahwa industri yang bergerak di bidang barang-modal (capital goods; mis. bahan mentah, konstruksi, dan peralatan industri) mengalami fluktuasi yang lebih luas ketimbang industri barang-konsumen. Industri barang-modal mengalami ekspansi lebih hebat di saat boom, tapi juga menderita paling dahsyat dalam periode depresi.
      3) Kenaikan Suplay uang beredar di dalam perekonomian. Sebaliknya, Suplay uang secara umum mengalami penurunan (meski tidak secara universal) Suplay uang selama masa depresi.
      c) Perekonomian pada kondisi recovery
      Ciri-ciri dari recovery ekonomi
      1) Mesin – mesin tua mulai diganti
      2) Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat
      3) Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik)
      4) Penjualan dan laba meningkat
      5) Investasi yang tadinya (pada lembah/resesi) dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimism
      6) Karena permintaan meningkat, sedangkan pada fase slump tersedia fasilitas produksi terpasang yang banyak maka perusahaan dengan mudah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta menggunakan tenaga kerja yang menganggur.
      d) Perekonomian pada kondisi booming
      Ciri-ciri dari Boom Ekonomi:
      1) Tingkat kuat dan naik dari permintaan agregat.
      2) Kerja Rising dan upah riil
      3) Peningkatan permintaan untuk barang-barang impor & jasa
      4) Pemerintah pendapatan pajak akan meningkat dengan cepat
      5) Keuntungan Perusahaan dan meningkatkan investasi
      6) Meningkatnya produktivitas.
      7) Sebuah bahaya demand-pull dan biaya-push inflation
      7) Siklus bisnis yang terjadi pada periode 1997)/1998
      Pada tahun 1997/1998 di Indonesia mengalami krisis begitu parah, dan pemulihannya sangat lambat. Dalam introspeksi, kita harus mengakui bahwa krisis di Indonesia benar-benar tak terduga datang, benar-benar itu belum pernah terjadi sebelumnya.Sebagaimana dicatat oleh Furman dan Stiglitz (1998), bahwa di antara 34 negara dengan masalah yang diambil sebagai sampel (sampel) penelitian, Indonesia adalah negara yang paling terpukul oleh krisis yang tidak diharapkan jika dibandingkan dengan negara-negara lain dalam sampel, ini. Ketika Thailand mulai menunjukkan gejala krisis, orang umumnya percaya bahwa Indonesia tidak akan menemui nasib yang sama.
      Berikut adalah empat penyebab Krisis Ekonomi Indonesia tahun 1997-1998:
      1) Stok utang luar negeri swasta sangat besar dan umumnya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi untuk “ketidakstabilan”.
      2) Jumlah kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan, masalah utang luar negeri swasta segera beralih ke masalah perbankan domestic.
      3) Sejalan dengan meningkatnya kurangnya kejelasan tentang arah perubahan politik, maka isu pemerintahan otomatis berkembang menjadi masalah ekonomi juga.
      4) Perkembangan situasi politik telah semakin panas akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri. Faktor ini adalah yang paling sulit untuk diatasi. Kegagalan untuk mengembalikan stabilitas di bidang sosial-politik telah mempersulit kinerja ekonomi dalam mencapai momentum pemulihan stabil dan berkelanjutan.
      3).Indicator ekonomi
      Indikator ekonomi yang relevan dalam menilai perkembangan eknomi suatu Negara adalah indikator Informasi
      Pada akhir 1990-an, banyak komentator mengumumkan bahwa Ekonomi Baru yangdidasarkan pada paradigma informasi-didukung di mana banyak aturan lama bisnis yang usang dan tidak relevan.Namun demikian, apa yang perlu kita sadari adalah bahwa, sejak pertengahan 1980-an, teknologi informasi dan internet telah permanen mengubah dinamika dari perekonomian. Saat ini, arus informasi yang cepat sangat penting bagi kesehatan perusahaan seperti modal, tenaga kerja, bahan baku dan transportasi. Internet meningkatkan apa ekonom sebut “kecepatan” dari uang, yang pada gilirannya mempengaruhi GDP (produk domestik bruto) ekonomi.
      Karena arus informasi sangat penting untuk semua sektor usaha, pemantauan indikator informasi dapat memberi kita jendela peringatan dini belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam intrik sistem ekonomi kita. Setelah kita mengembangkan alat untuk mengukur indikator ini secara efektif, kita mungkin dapat memprediksi resesi baru jadi dan pemulihan baik di muka.

      • firda rityawati dan laras idra on said:

        firda ristyawati dan laras idra
        1) a) Perekonomian pada kondisi resesi
        Cirri-cirri dari resesi ekonomi
        1) Kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.
        2) Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan.
        3) Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, meningkatnya harga-harga secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.
        b) Perekonomian pada kondisi depresi
        Ciri-ciri dari depresi ekonomi
        1) Terjadinya kerugian besar yang dialami oleh gugusan berbagai macam bisnis
        2) Fakta bahwa industri yang bergerak di bidang barang-modal (capital goods; mis. bahan mentah, konstruksi, dan peralatan industri) mengalami fluktuasi yang lebih luas ketimbang industri barang-konsumen. Industri barang-modal mengalami ekspansi lebih hebat di saat boom, tapi juga menderita paling dahsyat dalam periode depresi.
        3) Kenaikan Suplay uang beredar di dalam perekonomian. Sebaliknya, Suplay uang secara umum mengalami penurunan (meski tidak secara universal) Suplay uang selama masa depresi.
        c) Perekonomian pada kondisi recovery
        Ciri-ciri dari recovery ekonomi
        1) Mesin – mesin tua mulai diganti
        2) Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat
        3) Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik)
        4) Penjualan dan laba meningkat
        5) Investasi yang tadinya (pada lembah/resesi) dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimism
        6) Karena permintaan meningkat, sedangkan pada fase slump tersedia fasilitas produksi terpasang yang banyak maka perusahaan dengan mudah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta menggunakan tenaga kerja yang menganggur.
        d) Perekonomian pada kondisi booming
        Ciri-ciri dari Boom Ekonomi:
        1) Tingkat kuat dan naik dari permintaan agregat.
        2) Kerja Rising dan upah riil
        3) Peningkatan permintaan untuk barang-barang impor & jasa
        4) Pemerintah pendapatan pajak akan meningkat dengan cepat
        5) Keuntungan Perusahaan dan meningkatkan investasi
        6) Meningkatnya produktivitas.
        7) Sebuah bahaya demand-pull dan biaya-push inflation
        7) Siklus bisnis yang terjadi pada periode 1997)/1998
        Pada tahun 1997/1998 di Indonesia mengalami krisis begitu parah, dan pemulihannya sangat lambat. Dalam introspeksi, kita harus mengakui bahwa krisis di Indonesia benar-benar tak terduga datang, benar-benar itu belum pernah terjadi sebelumnya.Sebagaimana dicatat oleh Furman dan Stiglitz (1998), bahwa di antara 34 negara dengan masalah yang diambil sebagai sampel (sampel) penelitian, Indonesia adalah negara yang paling terpukul oleh krisis yang tidak diharapkan jika dibandingkan dengan negara-negara lain dalam sampel, ini. Ketika Thailand mulai menunjukkan gejala krisis, orang umumnya percaya bahwa Indonesia tidak akan menemui nasib yang sama.
        Berikut adalah empat penyebab Krisis Ekonomi Indonesia tahun 1997-1998:
        1) Stok utang luar negeri swasta sangat besar dan umumnya berjangka pendek, telah menciptakan kondisi untuk “ketidakstabilan”.
        2) Jumlah kelemahan dalam sistem perbankan di Indonesia. Dengan kelemahan sistemik perbankan, masalah utang luar negeri swasta segera beralih ke masalah perbankan domestic.
        3) Sejalan dengan meningkatnya kurangnya kejelasan tentang arah perubahan politik, maka isu pemerintahan otomatis berkembang menjadi masalah ekonomi juga.
        4) Perkembangan situasi politik telah semakin panas akibat krisis ekonomi, dan pada gilirannya memberbesar dampak krisis ekonomi itu sendiri. Faktor ini adalah yang paling sulit untuk diatasi. Kegagalan untuk mengembalikan stabilitas di bidang sosial-politik telah mempersulit kinerja ekonomi dalam mencapai momentum pemulihan stabil dan berkelanjutan.
        3).Indicator ekonomi
        Indikator ekonomi yang relevan dalam menilai perkembangan eknomi suatu Negara adalah indikator Informasi
        Pada akhir 1990-an, banyak komentator mengumumkan bahwa Ekonomi Baru yangdidasarkan pada paradigma informasi-didukung di mana banyak aturan lama bisnis yang usang dan tidak relevan.Namun demikian, apa yang perlu kita sadari adalah bahwa, sejak pertengahan 1980-an, teknologi informasi dan internet telah permanen mengubah dinamika dari perekonomian. Saat ini, arus informasi yang cepat sangat penting bagi kesehatan perusahaan seperti modal, tenaga kerja, bahan baku dan transportasi. Internet meningkatkan apa ekonom sebut “kecepatan” dari uang, yang pada gilirannya mempengaruhi GDP (produk domestik bruto) ekonomi.
        Karena arus informasi sangat penting untuk semua sektor usaha, pemantauan indikator informasi dapat memberi kita jendela peringatan dini belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam intrik sistem ekonomi kita. Setelah kita mengembangkan alat untuk mengukur indikator ini secara efektif, kita mungkin dapat memprediksi resesi baru jadi dan pemulihan baik di muka.

  13. The duty on 24 september 2012.
    Name of group:
    1. Karinatul Aini / 120431413955 / BL
    2. Dewi Maharani / 120431413957 / BL
    The answers of:
    1. Relationship between inflation and unemployment
    The meaning of Inflation
    In economics, inflation is a process of rising prices in general and constantly associated with the market mechanism that can be caused by various factors, among others, increased consumption, excess liquidity in the market that triggered the consumption or even speculation, to include also due to the distribution of goods do not launch. In other words, inflation is also a decline in the value of the currency continuously.

    The meaning of unemployment
    Unemployed or unemployed people are those who do not have jobs and are not actively looking for work. Categories of people who are unemployed usually are those who do not have a job at the age of his time working and working.

    Relationship Between Inflation and Unemployment
    Meaning inflation and unemployment has been described briefly above, it is well known that when inflation is too high, then people tend not to want to save his money again, but it will be modified in the form of goods, whether the goods are ready to be used or have to go through the production process (eg home-made) . Under conditions of relatively high inflation, then theoretically be a lot of unemployed people get jobs, not only because many people need energy, but also the producers should be using the momentum of rising prices by increasing production of goods which of course had to open new production capacity and this would require new workers to the level of full employment.
    High inflation many negative impacts than positive impacts on the economy of a nation. The reason is simply because many countries are economically inefficient management, investment barriers, and still depend very large (in terms of both quality and quantity) on imported raw materials. The fact that relatively high inflation makes people live frugally, many layoffs and reduction in the number of production resulting in shortages of goods in the market, and this will be the already high inflation becomes higher.
    Empirically based theory of the strong no evidence was found that there is an inverse relationship between inflation and unemployment, in the sense that if inflation rises, unemployment falls, conversely, if inflation falls, the unemployment rose.

    2.What do you about economic growth.
    Economic growth in the modern economy is the growth in the economy that led to the goods and services produced in a society which further increases coupled with increased prosperity of the community.
    In real economic activity, economic growth in the fiscal means of economic development taking place in a country such as increasing the number and production of industrial goods, infra-structure, the number of schools, increased production of economic activities that already exist and some of the other developments. In macroeconomic analysis, the rate of economic growth of a country is measured by the real national income growth achieved by the country, namely the Gross National Product (GNP) or Gross Domestic Product.

    Sources of Economic Growth Increase
    Economic growth is generally defined as an increase in real GDP per capita. GDP (Gross Domestic Product, GDP) is the market value of the total output of a country, which is the market value of all final goods and services produced over a given period by factors of production located within a country.
    The increase in GDP can occur through:
    1. The increase in labor supply
    2. The increase in physical capital or human resources
    3. Increase in productivity

    Benefits of Economic Growth
    Economic Growth Benefits include the following:
    Growth rate to measure economic progress as a result of national development per capita income is used to measure the level of prosperity of the population, increasing per capita income for the constant work the higher the level of prosperity and productivity.
    For the manufacture of projection or estimate of state revenue for national development planning and regional or sectoral. As a basis for determining the priority of external assistance country by the World Bank or other international agencies.

    3.What factors can affecting economic growth in the countries

    Factors Affecting Economic Growth
    1. Factors Human Resources, Similar to the process of development, economic growth is also affected by the human resources. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.

    2. Factors Natural Resources, Most developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources does not guarantee the success of economic development, if not supported by ability of human resources to manage the natural resources available. The example of natural resources is soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches of the sea.

    3. Factors of Science and Technology, Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and the eventually result in the acceleration of economic growth.

    4. Cultural factors, cultural factors provide a disparate impact on economic development is done, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture that may encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture that can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
    5. Capital Resources, capital resources needed to cultivate human resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods is essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

  14. laras idra martrarida ( 120431426412)

    1. Relationship between inflation and unemployment

    inflation and unemployment can be conclude that inflation showed price increases, while the rate of unemployment is the opportunity that lame that occurs between the labor force and employment opportunities so that some can not be employment opportunities.Inflation has linkages to the unemployment and employment opportunities because of the low unemployment rate is causing inflation problems when on the contrary when the unemployment rate is high level of the prices will be high.

    2.What do you about economic growth.

    I think economic growth is the process of changing the economic conditions of a country on an ongoing basis to better circumstances during a certain period. Economic growth can be defined as the process of increase of production capacity of an economy that is manifested in the form of rising national income in order to create an even distribution of population. For example, to national measures, Gross National Product (GNP), who was walking with the previous year.

    3.What factors can affecting economic growth in the countries

    Factors Affecting Economic Growth

    a. The factors of human resources, as well as the process of development, economic growth is also affected by SDM. Human resources is the most important factor in the process of rapid development, the slowness of the development process depends on the State and its human resource development as a subject has sufficient competence to carry out the development process

    b. The factors natural resources, most developing countries resting to natural resources in carry out a process trading. However, natural resources course not guarantee the success of pembanguan economy, if not supported by kemampaun human resources in managing natural resources available. Natural resources which referred to dinataranya fertility of soil, wealth mineral, mines, wealth forest produce and wealth sea.

    c. The factors science and technology, that is getting rapidly push the acceleration construction process, the changing patterns work which was using human hand replaced by sophisticated machines impact to aspect efficiency, quality and quantity a series of activity economic development done and eventually be on accelerating growth rate the economy.

    d. The cultural factors, cultural factors impact vidual toward economic development is by this factor can serve as power plant or thruster development process but can also become inhibitors development. Culture that can be pushed development are attitude hard work and working smart, honest, ductile and forth. The culture that can retard development process are attitude anarchist, selfish, wasteful, corruption, and so on.

    e. The capital resources, capital needed man to cultivate sda and improving science and technology. Resources capital in form of capital goods is important for development and controlled economic development because capital goods can also increase productivity.

  15. Name:
    Didin January (120431413931) BL Offering
    Siti Aisyah (120431413964) BL Offering
    1. The relationship between inflation and unemployment
    Inflation is the increase in price of goods in general, while unemployment is a condition in which a person is unable to work, due to the unavailability of jobs.
    We think that the relationship between inflation and unemployment reverse occurred. If the rate of inflation rises, the number of unemployment if inflation falls down and the number of unemployed increased. This is because when a company receives a lot of employees / workers (unemployment rate to be reduced) but the production costs are rising because companies have to hire many employees / workers. Increase the company’s production costs make the price of a product rises. And vice versa if the enterprise IT received little worker / employee, the production cost is reduced so that the price of these goods decline (inflation down)

    2. Economic growth is the process of changing economic conditions Suau countries moving towards a better and bisannya characterized by rising GDP and income per capita.

    3. Factors that affect the economic growth of a country:
    a) Factors Human Resources.
    Similar to the process of development, economic growth is also affected by the SDM. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.
    b) Factors Natural Resources
    Most developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources does not guarantee the success of economic development, if not supported by kemampaun human resources to manage the natural resources available. Natural resources is dinataranya soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches of the sea.
    c) Factors of Science and Technology
    Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and ultimately result in the acceleration of the growth rate economy.
    d) Cultural Factors
    Cultural factors affect individual committed to economic development, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture that may encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture that can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
    e) Capital Resources
    Human capital resources needed to treat natural resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods is essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

  16. puji irawati on said:

    Name Group
    Puji Irawati ( 120431426498) Offering BL
    Melinda Ratnasari (120431426437) Offering BL

    Macroeconomic Task At The Meeting To 5

    1. The Relationship Between Inflation And Unemployment.
    Inflation is an indicator of movement of prices of goods and services in general, which simultaneously deals with purchasing power. Inflation reflects price stability, the lower the value of an inflation means the greater the tendency toward price stability.
    Unemployment is a person who entered the labor force (15 to 64 years) who are looking for work and have not got it. People who are not looking for work for example like housewives, students sekolan smp, sma, college students, and others who for some reason did not / do not need a job.
    There is an inverse relationship between the inflation rate and the unemployment rate in an economy. More and more entrepreneurs to expand the employment opportunities he had to pay a certain factor of production and the payment of more factors increase the unit cost of production will be observed in order to maintain profitability and product entrepreneurs will inflate the price of these products .. A similar process will be observed throughout the economy when the government intends to create jobs. Prices of products or services, where labor is installed, will be increased so that the increase in the inflation rate will be seen through the beyond economy .Dapat concluded that when the government intends to lower the unemployment rate should bear the rising level of inflation in the national economy.

    2.Economic Growth
    Economic growth is the increase in the production capacity of an economy that is realized in the form of increase in national income. A country is said to have economic growth if there is an increase of real GNP of the country. The existence of economic growth meruapakan indication of the success of economic development.
    Growth traits are:
    1. The increase in Gross Domestic Product (GDP) and Gross
    National Product (GNP) from year to year (jangkapendek)
    2. The increase in the amount of goods and services
    3. The discovery of productive resources are dapatdidayagunakan.

    3. Factors Affecting Economic Growth
    1) Factors Human Resources
    Similar to the process of development, economic growth is also affected by the SDM. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.
    2) Factors Natural Resources
    Most developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources does not guarantee the success of economic development, if not supported by kemampaun human resources to manage the natural resources available. Natural resources is dinataranya soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches of the sea.
    3) Factors of Science and Technology
    Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and the eventually result in the acceleration of economic growth.
    4) Cultural factors
    cultural factors provide a disparate impact on economic development is done, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture that may encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture that can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
    5) Capital Resources
    capital resources needed to cultivate human resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods is essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

  17. the answer for the task on september 24th 2012.
    name :
    zulfa fatati nadya nafis – off BL
    nindri yastuti – off BL

    answers :
    1. the relationship between inflation and unemployment
    There is an inverse relationship between the inflation rate and the rate of unemployment in an economy. A growing number of entrepreneurs expands the employment opportunities, then he must pay more with certain factors of production, and the payment of more factors of production that increasing the cost of production units will be observed. And in order to maintain the profitability of the product the entrepreneur will inflate the price of these products. A similar process will be observed in the whole of the economy when the Government intends to create jobs. The price of products or services, where the labor is installed, will be increased, so the inflation rate that rise will be seen through out the economy.

    2. Economic growth is the increase in the amount of the goods and services produced by an economy over time. It is conventionally measured as the percent rate of increase in real gross domestic product, or real GDP. Growth is usually calculated in real terms, example: inflation-adjusted terms, in order to obviate the distorting effect of inflation on the price of the goods and services produced. In economics, “economic growth” or “economic growth theory” typically refers to growth of potential output, like production at “full employment,” which is caused by growth in aggregate demand or observed output.
    As an area of study, economic growth is generally distinguished from development economics. The former is primarily the study of how countries can advance their economies. The latter is the study of the economic aspects of the development process in low-income countries.
    As economic growth is measured as the annual percent change of gross domestic product (GDP), it has all the advantages and drawbacks of that measure.

    Economic growth is usually associated with technological changes. An example is the large growth in the U.S. economy during the introduction of the Internet and the technology that it brought to U.S. industry as a whole. The growth of an economy is thought of not only as an increase in productive capacity but also as an improvement in the quality of life to the people of that economy.

    3. factors of economics growth are :
    1) The factor of human resources
    as well as the process of development, economic growth is also affected by human resource. Human resources is the most important factor in the process of rapid development, the slowness of the development process depends on the State and its human resource development as a subject has sufficient competence to carry out the development process.
    2) Factors of the natural resources
    developing countries largely rests upon the natural resources in carrying out the process of its construction. However, natural resources does not guarantee the success of the process of economic growth, if not supported by human resources skill in managing the natural resources that available. some of the natural resources are : soil fertility, wealth of minerals, mines, forest products and a wealth of riches of the sea.
    3) Factor in the development of science and technology
    science and technology that growth rapidly encourages the acceleration of the process of development, the changing of the working patterns of using human hands being replaced by sophisticated machines have an impact upon aspects of efficiency, quality and quantity of a series of economic development activities which are performed and ultimately result in the acceleration of the rate of growth of the economy.
    4) Cultural factors
    cultural factors provide a distinctive impact on economic development that have been done, these factors can serve as power stations or driving the development process but can also be a barrier to development. culture that can encourage the development are hard work and smart work, honest, resilient and so on. As for the culture that could hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, CCN, and so on.
    5) capital resource
    capital resource is needed by human for processing natural resource into a product and increasing the quality of its technology. capital resource in a form of goods, is very important for the development and fluency of economic development, because goods also can increased the productivity.

  18. inne pramesti on said:

    SRI WAHYUNI (120431413948) BL
    INNE PRAMESTI (120431426481) BL
    1. When economics look at inflation and unemployment in the short term, they see a rough inverse correlation between the two. When unemployment is high, inflation is low and when inflation is high, unemployment is low. This has presented a problem to regulators who want to limit both. This relationship between inflation and unemployment is the Phillips curve.When inflation is high, the demand for goods is high, thus opening up opportunities for the unemployed to open a small business.
    2. Economic growth is the increase in the amount of the goods and services produced by an economy over time. It is conventionally measured as the percent rate of increase in real gross domestic product,, or real GDP. Growth is usually calculated in real terms, i.e. inflation-adjusted terms, in order to obviate the distorting effect of inflation on the price of the goods and services produced. In economics, “economic growth” or “economic growth theory” typically refers to growth of potential output, i.e., production at “full employment,” which is caused by growth in aggregate demand or observed output.
    3. Factors Human Resources
    Similar to the process of development, economic growth is also affected by the SDM. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.
    a. Factors Natural Resources
    Most developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources does not guarantee the success of economic development, if not supported by kemampaun human resources to manage the natural resources available. Natural resources is dinataranya soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches of the sea.
    b. Factors of Science and Technology
    Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and ultimately result in the acceleration of the growth rate economy.
    c. Cultural Factors
    Cultural factors affect individual committed to economic development, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture that may encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture that can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
    d. Capital Resources
    Human capital resources needed to treat natural resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods is essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

    • firda rityawati on said:

      FIRDA RISTYAWATI (120431413946)

      1) The relationship between inflation and unemployment
      In macro-economic indicators, there are three things that are at issue, especially macroeconomics. First is the issue of economic growth. Second is inflasi. Third problem is unemployment.

      There is an inverse relationship between the inflation rate and the unemployment rate in an economy. More entrepreneurs to expand the employment opportunities he had to pay a certain factor of production and the payment of more factors increase the unit cost of production will be observed in order to maintain profitability and product entrepreneurs will inflate the price of these products .. A similar process will be observed throughout the economy when the government intends to create jobs. Prices of products or services, where labor is installed, will be increased so that the increase in the inflation rate will be seen through out the economy.
      It can be concluded from the above explanation is that when the government intends to lower down the unemployment rate will bear the increase in the rate of inflation in the national economy.different between inflation and unemployment the number of people unemployed is the number of people in a country that does not have a job and are available for work at current market wage. It can easily be converted into a percentage by linking the number of unemployed, the number of people in the labor force.

      Inflation is a general rise in prices over the past 12 months. This is measured by taking the weighted average of all consumer products (weighted on the frquency of purchase) and analyze the overall price trends. It is often called the Consumer Price Index (CPI) or the Harmonised Consumer Price Index (HICP). It shows how much, as a percentage, the general price level of all goods consumption has changed throughout the years.
      Both have been analyzed together with the Phillips curve that shows the inflation rate is plotted against the level of unemployment.

      2) Economic Growth
      Is the change in a country’s economy towards a sustainable better during certain periods. Economic growth can be defined as well as the increase in the production capacity of an economy that is realized in the form of increase in national income. The existence of economic growth is an indication of the success of economic development. Economic growth in the economy is an activity that causes the goods and services produced within the community to grow and increase the prosperity. The development of the ability to produce goods and services as a result of the increase of production factors in general are not always followed by the increase of production of goods and services that are the same size.

      3) Factors that affect economic growth are:
      • Human Resource Factor
      Similar to the process of development, economic growth is also affected by the SDM. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.

      • Factors Natural Resources
      Most developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources does not guarantee the success of economic development, if not supported by kemampaun human resources to manage the natural resources available. Natural resources is dinataranya soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches.
      • Factors of Science and Technology
      Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and ultimately result in the acceleration of the growth rate economy.
      • Cultural Factors
      Cultural factors affect individual committed to economic development, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture that may encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture that can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
      • Capital Resources
      Human capital resources needed to treat natural resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods is essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

  19. Silky & Haswin on said:

    SILKY ROUDHOTUS SA’ADAH ( 120431426409 ) OFF BL
    MOHASWIN RISKI ILHAM ( 120431426475 ) OFF BL

    1. Relations Inflation and Unemployment

    Unemployment or jobless is a term for people who do not work at all, looking for work, working less than two days during the week, or someone trying to get a decent job. Unemployment is generally caused due to the workforce or job seekers are not proportional to the number of jobs that exist that are able to absorb it. Unemployment is often a problem in the economy due to the existence of unemployment, productivity and incomes will be reduced so as to give rise to poverty and other social problems.
    Inflation is a process of rising prices in general and ongoing (continuous) associated with the market mechanism that can be caused by various factors, among others, increased consumption, excess liquidity in the market that triggered the consumption or even speculation, to include also due ketidaklancaran distribution of goods. In other words, inflation is also a decline in the value of the continuous uangsecara. Inflation is the process of an event, not a higher or lower price level. That is, the price level is considered high inflation does not necessarily indicate. Inflation is an indicator to see the rate of change, and is considered to occur if the price increase takes place continuously and mutually influence affect. The term inflation is also used to mean an increase in money supply which is sometimes seen as the cause of rising prices. There are many ways to measure the rate of inflation, the two most commonly used is the CPI and the GDP deflator.
    There are four factors that determine the rate of inflation. First, the money supply either cash or accounts. Second, the comparison between the monetary and physical goods available. Third, the level of interest rates also influence the inflation rate. Interest rate in Indonesia is higher than Asian countries. Fourth, the inflation factor determined physical infrastructure. Skyrocketing inflasipun fueled by government policies that attract subsidies that fuel and electricity price increases. The fuel price hike is quite burdensome to the community because of the lower layer can cause a multiplier effect, driving up the price of other items in the process of production and distribution using BBM.
    The high inflation rate would also lower purchasing power. To withstand the level of purchasing power as before, workers must earn at least the rate of inflation. If not, the people no longer afford to buy the goods produced. If the goods produced no one buys it will be many companies that reduced profits. If the company’s profit is reduced, the company will seek to reduce costs as a consequence of the reduction in corporate profits. This is what will encourage companies to reduce the number of workers / laborers to lay off workers. One of the way out of the crisis is to stabilize the rupiah. The improvement in the exchange rate is not only dependent on money suplly from the IMF, but also foreign investors (investment global society) capital flowing into Indonesia (capital inflow). Because of this that inflation control is important in order to control unemployment.
    Inflation can be prevented or reversed by increasing unemployment means more tinggiangka unemployment, the lower the inflation, the lower the angkapengangguran conversely, the higher the rate of inflation because of the low unemployment rate dayabeli the greater impact on the demand for barangsehingga meningkatny prices of goods go up, then there is inflation
    2. What do you about economic growth
    Economic growth is the increase in output per capita are continuous in the long run. economic growth as one of the indicators of success of the development. thus the greater the economic growth, the higher the people’s welfare
    3. What factors can affecting economic growth in the countries

    Factors Affecting Economic Growth

    1. Factors Human Resources Similar to the process of development, economic growth is also affected by the SDM. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.
    2. Factors Natural Resources, Most developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources does not guarantee the success of economic development, if not supported by kemampaun human resources to manage the natural resources available. Natural resources is dinataranya soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches of the sea.
    3. Factors of Science and Technology, Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and the eventually result in the acceleration of economic growth.
    4. Cultural factors, cultural factors provide a disparate impact on economic development is done, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture that may encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture that can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
    5. Capital Resources, capital resources needed to cultivate human resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods is essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

  20. Macro’s Assignment
    written by:
    MOH. SUHAILI
    ZAINUL ROCHIM
    (Offering BL)

    RELATIONSHIP BETWEEN INFLATION AND UNEMPLOYMENT

    Each country expected to reach the stage of economic activity at the level of the use of full employment without inflation. Economists have noticed that when unemployment is low, inflation is a problem to be addressed, then the inflation rate will be higher. Conversely, when there is serious unemployment, the level of relative prices stable. It Means not easy to create full employment and the use of price stability simultaneously.
    The curve that describes the relationship between inflation and unemployment is called Philips curve. In the 1950s Professor AW Phillips, a British economist, conducted a study on the economic stabilization policy, and one of the aspects studied are the docking between wage inflation and unemployment.
    The results of the study Professor Philips is illustrated in a curve, “Philips curve”. The general nature of the Philips curve is very steep decline at first, but further more that will be getting ramps. Thus shaped curve describes the relationship as follows:
    • If the unemployment rate is very low, the faster the rate of wage increase
    • If the unemployment rate is relatively high, relatively slow wage increases validity.
    In another study of price inflation and the unemployment rate does not vary with the nature of its relationship between wage inflation and unemployment. At times of high unemployment, rising prices are relatively slow: but the lower unemployment, higher inflation rates. But at a certain unemployment rate wages inflation is faster than inflation rates. This is caused by the increase in the productivity of the same validity to a wage increase. As a result of increase in the productivity of the production costs do not increase as fast as wages rise, and because price increases lower than wage increases.
    Economists argued in the long run Philips curve straight, this is due in a given period allow expectations about inflation adjust fully to the prevailing inflation. The curve shows the perpendicular or the natural rate of unemployment Natural Rate of Unemployment in the economics. If unemployment has reached a natural rate of unemployment, the government’s efforts to reduce the unemployment rate will not ultimately lead to lower unemployment rate but result in higher prices. In other words, in the long run Philips curve shaped upright. That meant the natural unemployment is unemployment consisting of normal unemployment and structural unemployment.
    But on the other hand, a negative relationship between inflation and unemployment are not always right. In 2005, Indonesia’s inflation rate rose to 17, 11%, while the unemployment rate increased to 10.26%. This situation is contrary to prevailing theory is caused by the presence of several factors that affect unemployment. One is a reduction in fuel subsidies in 2005, causing rising prices and weakening purchasing power. The purchasing power of low public investment results in weak as well, and finally add an impact on unemployment due to lack of job opportunities.

    ECONOMIC GROWTH
    Growth is a process of change in a country’s economy is continuing towards a better state for a certain period. Economic growth can be defined as well as the increase in the production capacity of an economy that is realized in the form of increase in national income. The existence of economic growth is an indication of the success of economic development.

    Factors of Economic Growth
    Factors affecting economic growth are:
    • Human Resource Factor
    Similar to the process of development, economic growth is also affected by the SDM. Human resources is an important factor in the development process, how quickly the process of development depends on the extent of human resource development as a subject having sufficient competence to carry out the development process.
    • Factors Natural Resources
    Most of developing countries relying on natural resources in carrying out the development process. However, natural resources do not guarantee the success of economic development, if not supported by the ability of human resources to manage the natural resources available. Natural resources consist of soil fertility, mineral wealth, mining, forest wealth and riches of the sea.
    • Factors of Science and Technology
    Developments in science and technology that encourage the rapid acceleration of the development process, the change of the pattern of the original work using the human hand is replaced by sophisticated machines have an impact on aspects of efficiency, quality and quantity of its economic development activities undertaken and ultimately result in the acceleration of the growth rate economy.
    • Cultural Factors
    Cultural factors affect individual committed to economic development, this factor may function as a generator or driver of the development process but can also become an obstacle to development. Culture may can encourage the development of such an attitude of hard work and smart work, honest, tenacious, and so on. The culture can hinder the development process including the anarchist attitude, selfish, wasteful, corruption, and so on.
    • Capital Resources
    Human capital resources needed to treat natural resources and improve the quality of science and technology. Capital resources in the form of capital goods are essential for the development and continuity of economic development for capital goods can also increase productivity.

  21. tugas nya mulai hari apa ?

  22. firmansyah on said:

    thank’s in the info

  23. Pingback: flow & conjuncture dalam perekonomian | vanillacho12

  24. terimakasih informasi materi ekonomi makronya Pak imam, salam sukses selalu ya :-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 36 other followers

%d bloggers like this: